
PADANG, AmanMakmur ––Bencana hidrometeorologi yang terjadi akhir tahun 2025 lalu yang menyebabkan terjadinya banjir bandang dan tanah longsor, sampai sekarang masih menyisakan duka bagi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Setelah masa tanggap darurat habis, saat ini persoalan bencana masuk ke masa pemulihan, yakni tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Khusus bagi Sumatera Barat, Buya H Mas’oed Abidin (HMA), seorang ulama kharismatik Ranah Minang, menyampaikan bahwa masa pemulihan yang dilaksanakan harus lah berbasis nagari, dengan melibatkan unsur-unsur di nagari, serta memadukan antara ranah dan rantau.
“Pemulihan dari dampak bencana harus secara utuh, bukan sekadar fisik saja. Spiritual juga. Termasuk pembenahan kembali persoalan ekonomi, sosial dan budaya,” ujar Buya HMA, Sabtu (24/1/2026).
Pada kenyataannya, kata Buya HMA, daerah yang ditimpa banjir dan longsor (banlor) didiami oleh masyarakat beragama, berkeyakinan, beradat dan berbudaya. “Jangan karena bencana ini spiritual masyarakat terdampak bencana menjadi goyah, dan kehilangan pegangan. Jadi jangan biarkan kekuatan spiritual masyarakat hilang,” ujarnya.
“Pemulihan dari bencana ini bukan sekadar persoalan perut serta membangun kembali fisik jalan dan jembatan. Tapi spiritual masyarakat harus ikut diperkuat,” tambah Buya HMA.
Bayangkan, betapa beratnya kehilangan orang-orang yang dicintai, ditambah habisnya harta benda tersapu banjir. Dan kemudian sesudahnya bukan sekadar air banjir saja, tetapi lumpur yang tingginya satu sampai dua meter menutup rumah-rumah, dan pembersihannya sangat menyita tenaga dan bisa membuat frustasi.
Ditekankan Buya HMA, bencana memang bisa membuat kekuatan spiritual menjadi tergerus, tapi apabila dapat terkelola dengan baik dan positif akan bisa menjadi kekuatan untuk bangkit dan bersikap optimis.
“Perlu ditumbuhkan semangat masyarakat terdampak bencana untuk bangkit. Trending yang mesti diapungkan adalah #SumbarBangkitBersama,” tukas Buya HMA.
Buya HMA mengingatkan bahwa bulan Ramadan sudah menghitung hari. Kekuatan spiritual masyarakat yang melemah akibat bencana ini perlu mendapatkan perhatian serius di saat bulan puasa.
“Siraman rohani dan ibadah selama bulan Ramadan mudah-mudahan bisa kembali memperkuat kekuatan spiritual masyarakat,” ucapnya.
Bagi pemerintah, Buya HMA mengingatkan bagaimana persoalan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana ikut dipulihkan melalui program-program yang berkelanjutan.
“Umumnya sumber ekonomi masyarakat terdampak itu adalah pertanian dan usaha kedai kecil. Makanya pemerintah buka lahan baru yang dikaitkan dengan program swasembada pangan, serta memfasilitasi usaha UMKM,” pungkas Buya HMA.
(Ika)











