
PADANG, AmanMakmur — Pemprov Sumbar berkomintmen untuk terus mempercepat upaya eliminasi TB (Tuberkulosis). Dan hal itu diperkuat melalui berbagai kebijakan dan langkah strategis, termasuk pembentukan Tim Percepatan Penanggulangan TB, Pengusunan Aksi Daerah, serta penguatan kebijakan melalui Pergub Sumbar No 1 Tahun 2026.
Demikian disampaikan oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah saat memberikan sambutan pada pembukaan acara Konferensi Kerja (Konker) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) atau Konker PDPI ke-XVIII 2026, dengan tema; Expanding Horizons in Every Breath, bertempat di ZHM Premiere Hotel Padang, Jumat (18/9/2026).
Dari data per 4 September, terang Mahyeldi, estimasi kasus TB di Sumbar mencapai 24.525 kasus. Dan dari jumlah itu baru 9.333 kasus atau 38% yang berhasil ditemukan dan mendapatkan pengobatan.
Mencermati itu, kata Mahyeldi lagi, strategi yang didorong oleh Pemprov Sumbar adalah membangun Nagari, Desa dan Kelurahan Siaga TB.
“Kita ingin penanggulangan TB tidak hanya menjadi program pemerintah atau program puskesmas, tetapi menjadi gerakan masyarakat berbasis wilayah,” kata Mahyeldi yang datang didampingi oleh Sekdaprov Arry Yuswandi dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Aklima.
Berdasarkan data per 9 Juli 2026, sebut Mahyeldi, telah terdapat 264 Nagari/Desa/Kelurahan Siaga TB dari total 1.287 Nagari/Desa/Kelurahan yang ada di Sumbar.
“Di sinilah saya melihat peran strategis PDPI. Kami berharap PDPI dapat menjadi salah satu mitra utama Pemprov Sumbar dalam penanggulangan TB. Keahlian para dokter spesialis paru sangat dibutuhkan,” pungkas Mahyeldi.
Terakhir Mahyeldi menyampaikan selamat melaksanakan Konker PDPI ke-XVIII. Mudah-mudahan momentum Konker dapat memberkuat dan mempercepat langkah menuju Sumbar bebas TB.

Kolaborasi Terintegrasi
Wakil Menteri Kesehatan RI dr Benjamin Paulus Octavianus yang membuka Konker PDPI ke-XVIII 2026, dalam sambutannya menyampaikan salah satu tugas yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto kepadanya selaku Wamenkes, salah satunya termasuk mengenai pencegahan dan pengobatan TB.
TB merupakan penyakit infeksi menular yang paling sering menyerang organ paru-paru. TB sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan benar.
Menurut Wamenkes Benjamin, saat ini pemerintah melakukan kolaborasi terintegrasi dengan melibatkan banyak pihak untuk membebaskan Indonesia dari TB, di antaranya PDPI, yang diharapkan bisa memberikan kontribusi keilmuan, standar klinis, pendidikan dan penguatan jejaring profesional.
“Kemudian dari Perguruan Tinggi diharapakan riset, inovasi, pengembangan SDM dan pengabdian masyarakat,” ujar Benjamin.
Seterusnya BRIN dan Industri. Dimana BRIN diharapkan bisa menghasilkan riset dan inovasi (vaksin, diagnostik, obat dan teknologi), untuk solusi penanggulangan TB berbasis sains.
Dari sisi Industri bisa menghasilkan produk kesehatan, memperkuat produksi dan distribusi, serta mendorong ketersediaan yang berkelanjutan.
“Dan di sini Kemenkes yang memimpin implementasi program, penguatan layanan, deteksi, pengobatan dan pencapaian target eliminasi TB nasional,” tukasnya.

Evaluasi Kinerja Organisasi
Kemudian, Ketua Umum PDPI dr Arief Riadi Arifin menyampaikan bahwa Konker (Konferensi Kerja) merupakan forum penting untuk melakukan evaluasi kinerja organisasi, menyelaraskan program pusat dan daerah, serta menetapkan arah kebijakan PDPI untuk tahun mendatang.
“Melalui Konker, PDPI memperkuat komitmen dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan respirasi, memperkaya pengetahuan ilmiah serta memperluas peran PDPI dalam menghadapi tantangan kesehatan paru di Indonesia,” katanya.
Lanjutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan kesehatan paru yang semakin kompleks, perpaduan antara masalah penyakit menular (infeksi), penyakit tidak menular (kronis), faktor lingkungan dan gaya hidup, serta kesenjangan akses dan kualitas sistem layanan.
“Tentunya hal ini menuntut PDPI sebagai perhimpunan dokter paru untuk semakin proaktif dan adaptif di dalam mencari solusi kolektif melalui peningkatkan kapasitas intelektual, berkolaborasi dan berinovasi,” tukasnya.

Diikuti 1349 Dokter Paru se-Indonesia
Sementara itu, Ketua Panitia Konker ke-XVIII Dr Oea Khairsyaf dalam laporannya bahwa Konker yang berlangsung 16-19 September 2026 ini diikuti sebanyak 1.349 dokter paru dari seluruh Indonesia. Kemudian ada juga dokter dari bidang terkait, tenaga kesehatan , akademisi, peneliti, peserta didik dan lainnya.
“Adapun rangkaian kegiatan meliputi forum ilmiah, workshop, simposium, pengabdian masyarakat,” ujar Oea Khairsyaf.
Pengabdian maayarakat, yakni pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan selama 2 hari, tanggal 17 September di Puskesmas Pauh Padang, dan 18 September di Kantor Camat Lubuk Begalung.
Kegiatan ini menyasar 300 orang masyarakat untuk pemeriksaan kesehatan, edukasi kesehatan dan skrining TB. Pelaksanan CKG ini merupakan kerjasama PDPI dengan Pemprov Sumbar dan Pemko Padang.
(Ika)











