
JAKARTA, AmanMakmur —Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa saya begitu mencintai puisi, sementara latar belakang saya justru berada pada dunia teknologi digital, ekonomi, dan bisnis, yaitu dunia yang identik dengan logika, struktur, dan rasionalitas.
Pertanyaan itu sering berujung pada satu hal yang lebih mendasar, apa sebenarnya fungsi puisi dalam hidup seorang Riri Satria?
Tulisan ini saya buat sebagai sebuah refleksi pribadi dalam menyambut Hari Puisi Nasional tahun 2026, yang jatuh pada tanggal 28 April 2026, sebuah momentum kecil namun bermakna untuk kembali menengok relasi saya dengan puisi, dan mungkin juga dengan diri saya sendiri.
Ada masa ketika saya merasa hidup berjalan terlalu rapi seperti barisan angka yang tersusun tanpa cela, seperti grafik yang naik turun namun tetap berada dalam kendali persamaan. Dunia saya dipenuhi oleh teknologi, ekonomi, dan penelitian, sebuah lanskap rasional yang menuntut kepastian, ketelitian, dan pembuktian. Di sana, segala sesuatu harus bisa diukur, diuji, dianalisis, lalu diprediksi. Tidak ada ruang untuk kabut. Tidak ada toleransi bagi ambiguitas.
Namun justru di sela-sela keteraturan itulah saya menemukan kebutuhan akan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak meminta pembuktian, tetapi justru mengajak untuk merasakan. Puisi hadir sebagai ruang yang mengimbangi hiruk-pikuk rasionalitas itu. Ia bukan pelarian, melainkan penyeimbang.
Puisi mengajak saya melihat apa yang selama ini luput dari perhatian. Ia membuka pintu pada fakta-fakta yang tidak kasat mata, suara-suara yang tidak terdengar, dan makna-makna yang bersembunyi di balik permukaan realitas.
Dalam puisi, saya berdialog dengan diri sendiri, sebuah percakapan yang sering kali tidak memiliki jawaban, tetapi justru memperkaya pertanyaan.
Saya pernah membaca sebuah gagasan bahwa sebagaimana sains, puisi juga merupakan cara untuk memahami semesta. Dan saya merasakannya benar adanya.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Albert Einstein, “Imagination is more important than knowledge,” sebuah pernyataan yang bagi saya tidak menegasikan sains, tetapi justru melengkapinya, bahwa di balik setiap pengetahuan, ada imajinasi yang mendahului.
Pandangan ini terasa sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Mary Midgley dalam bukunya “Science and Poetry”, bahwa “we need both science and poetry to understand the world fully.” Sebuah penegasan bahwa pemahaman manusia tidak bisa berdiri hanya di atas satu kaki; ia memerlukan rasio sekaligus imajinasi, analisis sekaligus makna.
Pandangan serupa juga terasa dalam pemikiran Carl Sagan, yang mengatakan bahwa “Science is not only compatible with spirituality; it is a profound source of spirituality.” Sains, dalam perspektif ini, tidak kering dari rasa, melainkan justru membuka ruang kekaguman, sebuah kualitas yang juga menjadi inti dari puisi.
Puisi bagi saya, bukan sekadar luapan emosi atau khayalan yang mengalir tanpa arah. Ia adalah hasil dari proses kreatif yang serius, sebuah kerja intelektual yang, dalam banyak hal, tidak kalah kompleks dari penelitian ilmiah. Hal ini mengingatkan saya pada Octavio Paz yang pernah menyebut bahwa “Poetry is knowledge, salvation, power, abandonment.” Puisi bukan sekadar ekspresi, melainkan juga cara mengetahui.
Ada momen ketika saya merasa perlu membaca, menggali referensi, bahkan mengamati langsung realitas untuk menemukan kedalaman makna dalam sebuah puisi. Dalam hal ini, saya teringat pada Richard Feynman yang dengan sederhana namun mendalam mengatakan bahwa memahami sesuatu secara ilmiah tidak mengurangi keindahannya. Ia tetap bisa melihat bunga sebagai objek ilmiah sekaligus sebagai keindahan, dua cara pandang yang tidak saling meniadakan, tetapi justru memperkaya.
Di sinilah letak perbedaan yang paling saya rasakan antara sains dan puisi. Sains berbicara tentang apa yang tampak, apa yang dapat diukur, dan apa yang dapat dibuktikan. Puisi, sebaliknya, berbicara tentang apa yang tersirat, tentang sesuatu yang berada di balik fakta.
Ketika hujan turun, sains menjelaskan bagaimana ia terbentuk, bagaimana siklusnya bekerja, dan bagaimana ia memengaruhi lingkungan. Tetapi puisi bertanya, apa yang ingin disampaikan oleh suara hujan itu? Apa yang ia bisikkan pada kesunyian?
Dalam pemahaman saya, ilmu pengetahuan dan teknologi pun memiliki sisi puitiknya sendiri. Sejalan dengan pemikiran Martin Heidegger yang melihat teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara manusia “mengungkapkan” realitas (a mode of revealing), saya melihat bahwa ilmu pengetahuan adalah puisi dari realitas, ia merangkai fakta menjadi pemahaman.
Teknologi adalah puisi dari inovasi, ia menerjemahkan ide menjadi kenyataan. Dan matematika adalah bahasa yang menyatukan keduanya, sebuah sistem simbolik yang, meski tampak kaku, sesungguhnya menyimpan keindahan yang nyaris artistik.
Puisi telah mengajarkan saya untuk berpikir di luar kebiasaan. Ia membebaskan saya dari struktur yang terlalu ketat, mengajak saya untuk berani tidak selalu linear, tidak selalu logis dalam arti yang sempit. Dalam puisi, kata-kata tidak selalu harus berada dalam konteks yang jelas, mereka bisa melompat, berlapis, bahkan bertabrakan, menciptakan makna baru yang tidak terduga.
Saya juga teringat pada Gregory Bateson yang menyebut bahwa makna sering kali lahir dari “the pattern which connects” atau pola-pola yang menghubungkan, bukan sekadar fakta yang berdiri sendiri. Justru karena itulah hidup terasa lebih utuh. Ada keseimbangan antara yang terukur dan yang tak terkatakan, antara yang pasti dan yang mungkin, antara yang logis dan yang intuitif.
Saya tidak lagi melihat keduanya sebagai dua dunia yang bertentangan, melainkan sebagai dua sisi dari satu kesadaran yang sama.
Pada akhirnya, puisi bukan sekadar aktivitas menulis bagi saya. Ia adalah cara untuk tetap manusia di tengah dunia yang semakin mekanistik. Ia adalah pengingat bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan untuk bisa dimengerti, dan tidak semua hal yang tidak terlihat berarti tidak ada.
Buat saya, persamaan matematika, algoritma dan coding, serta puisi memiliki kesamaan yaitu merepresentasikan suatu sistem yang sangat kompleks dengan simbol-simbol yang sederhana.
Menurut saya begitu. Mungkin Anda sepakat, mungkin juga tidak. Dan itu tidak masalah. Karena seperti puisi itu sendiri, pemahaman selalu terbuka, tidak pernah selesai, dan selalu menunggu untuk ditemukan kembali.
Selamat Hari Puisi Nasional 2026
28 April 2026.
Sekilas Riri Satria
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, merupakan alumni SMAN 2 Padang, dan Sarjana Ilmu Komputer lulusan Universitas Indonesia (UI), serta menempuh program S3 atau Doktor di bidang Manajemen Bisnis pada PSB Paris School of Business, Paris, Prancis.
Riri adalah salah seorang pendiri, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), serta Pimpinan Umum sebuah jurnal sastra daring Sastramedia.com.
Puisinya sudah diterbitkan dalam empat buku puisi tunggal, yaitu Jendela (2016), Winter in Paris (2017), Siluet, Senja, dan Jingga (2019), dan Metaverse (2022), serta sebuah buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul Algoritma Kesunyian (2023), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya.
Riri juga menulis esai yang dibukukan dalam; Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis (2003), trilogi Proposisi Teman Ngopi (2021), yang terdiri tiga buku; Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital; Pendidikan dan Pengembangan Diri; Sastra dan Masa Depan Puisi (2021), serta Jelajah (2022).
Sehari-hari ia adalah CEO pada Value Alignment Advisory (VA2) Group, dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), Komisaris Utama di sebuah BUMN yaitu ILCS Pelindo Solusi Digital, Anggota Dewan Penasihat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), serta pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer UI periode 2011-2018.
Di samping itu, ayah dua anak dengan istrinya yang juga dosen ini, sering diundang sebagai narasumber untuk topik ekonomi digital dan transformasi digital di berbagai perusahaan dan instansi pemerintah, termasuk untuk Program Pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI. *)
.










