
Surat Terbuka untuk Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia (Menaker RI) dari Presiden Internasional ACIKITA Jepang
Setop Pengiriman Anak Bangsa Jadi Tenaga Buruh Kasar dan Kuli ke Jepang, Berkaryalah pada Jalur Profesional
Assalamu’alaikum Wr Wb
Kepada Yth.
Ibu Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia (Menaker RI), dan pihak terkait lainnya di Indonesia.
Dengan ini kami berharap agar pengiriman anak bangsa jadi tenaga buruh kasar dan kuli ke Jepang dapat dihentikan (disetop), karena ditenggarai menimbulkan banyak masalah, di antaranya masalah sosial dan kriminal.
Dan lagi, ini menjerumuskan anak bangsa, menjatuhkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di Jepang.
Orangtua, dan para pendidik, terutama di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), diminta untuk setop mengirimkan anak/siswa menjadi tenaga buruh kasar dan kuli ke Jepang.
Bila akan bekerja, ambillah jalur profesional dan lakukan perjuangan yang tepat.
Kami tinggal di Jepang 34 tahun (Bapak Prihardi Kahar, sebagai Profesor di Kobe University), dan saya Jumiarti Agus, 24 tahun, sangat mengetahui beragam kriminal dan perbuatan yang dilakukan oleh tenaga muda jalur buruh ini.
Ada yang mencencang temannya, dan memasukkan ke dalam kopor, ditinggalkan di bandara.
Kemudian, ada banyak kasus yang menikahi perempuan janda Jepang, dengan tujuan mendapatkan visa tinggal di Jepang, kemudian perlahan rekening tabungan dipindahkan. Nanti pulang ke Indonesia menikahi kekasihnya dan meninggalkan wanita Jepang.
Kini di Kobe mosque, imam tidak mudah untuk menikahkan para tenaga kerja asal Indonesia dengan muslimah (muallaf Jepang).
Beberapa kasus, setelah punya satu anak, sudah ada uang, wanita Jepang ditinggalkan.
Sahabat saya muslimah Jepang mengalaminya. Tapi pemerintah Jepang punya kebijakan melindungi dan membiayai biaya hidup para warganya dan warga asing dengan visa tinggal di Jepang, setiap bulan 160 ribu yen.
Masih banyak kasus lain, misalnya lari dari tempat kerja, tergiling mesin dan kecelakaan kerja lainnya.
Minimnya penguasaan bahasa Jepang yang mereka miliki, mengakibatkan susah berkomunikasi bila ada masalah yang dihadapi.
Mestinya berada di negeri orang, berkaryalah pada jalur profesional, bisa membantu saudara sebangsa untuk sukses dalam studi dan karir, mengharumkan nama besar bangsa Indonesia. Bukan menjadi orang orang buronan, pelaku kriminal dan kejahatan.
Mereka jangan lagi dijuluki pahlawan devisa, karena kalau berpergian jauh naik shinkansen mereka tidak bayar full harga tiket, hanya butuh beberapa ribu saja. Nanti setelah masuk shinkansen dan sampai di tempat tujuan ada temannya sesama tenaga kerja yang akan mengakali dan membantu agar dia bisa keluar stasiun.
Saya menuliskan hal ini dengan nawaitu baik. Manusia adalah kalifah di muka bumi, Allah menuntun kita dengan panduan Alquran dan hadist, kita di dunia seharusnya patuh dengan aturan-aturan Allah, karena goal hidup setiap muslim adalah go to jannah (syurga Allah).
Kalau mau ke LN (Luar Negeri), khususnya Jepang, jangan memilih jalur buruh atau kuli. Sebaiknya memilih jalur profesional. Caranya ambillah sekolah bahasa Jepang, hingga level N1, kemudian bisa melanjutkan studi ke sekolah kejuruan. Setelahnya bisa bekerja di tempat yang terhormat.
Kami di ACIKITA Foundation, ada Sekolah Persiapan Lanjut Studi ke Jepang (kurikulum design by ACIKITA), nantinya mereka bisa menjadi orang hebat di berbagai bidang.
Untuk menamatkan kurikulum PTU membutuhkan pendidikan 1-2 tahun sebelum masuk universitas atau sekolah kejuruan. Metode ini bisa diadopsi oleh sekolah-sekolah SMK, bukan mengirimkan anak muridnya ke luar negeri dengan jalur menjadi buruh. Sehingga mereka nantinya bisa bekerja sebagai profesional yang punya jenjang karir.
Demikianlah surat terbuka ini kami sampaikan, semoga pesan penting ini sampai kepada Ibu Menteri Tenaga Kerja RI secepat mungkin.
Terimakasih
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Jumiarti Agus
(Alumni Tokyo Institute of Technology), dan Presiden Internasional ACIKITA (www.acikita.org)
Sekilas ACIKITA
ACIKITA adalah organisasi yang didirikan oleh anak bangsa yang berkarya (akademisi) di Tokyo Institute of Technology pada tahun 2006 dengan tujuan untuk memajukan Indonesia melalui perjuangan pada bidang pendidikan, karena pendidikan adalah akar kemajuan bangsa.
Visi ACIKITA itu; “Berjuang bersama membangun bangsa melalui bidang pendidikan untuk memutus rantai masalah bangsa.”
Salah satu fokus perjuangan di ACIKITA adalah mencetak generasi Habibie, maknanya generasi masa depan bangsa yang mempunyai keahlian spesifik, cinta tanah air, dan punya moral yang baik.
Dan untuk mencapai tujuan ini maka sejak 2018, ACIKITA membuka Sekolah Persiapan Lanjut Studi ke Jepang (PTU-ACIKITA/ School of Preparation to Enter University in Japan).
Program ini dibuat karena terdapatnya perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dengan di Jepang, sehingga para pelaku pendidikan/orangtua siswa tidak memahami bagaimana seluk-beluk untuk bisa diterima seleksi beasiswa Jepang dan masuk universitas di Jepang.
ACIKITA telah mendesign kurikulum khusus untuk siswa dan mahasiswa Indonesia yang ingin lanjut studi S1/S2/S3 ke universitas di Jepang. Dimana, generasi muda Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, dapat bergabung menjadi murid PTU ACIKITA.
(Putrie)











