
JAWA TENGAH, AmanMakmur —Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya konsolidasi institusi dan penguatan kemandirian bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam menghadapi dinamika persaingan dunia yang semakin kompleks.
Mengawali ceramahnya dalam Pengajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Haedar menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian UMS yang terus berkembang dari fase ke fase dan mampu menghadirkan kebanggaan bagi persyarikatan Muhammadiyah.
Menurutnya, dengan capaian yang signifikan itu, UMS bersama persyarikatan harus mampu menjaga, merawat, dan mengembangkannya melalui pengelolaan institusi yang kuat dan berkelanjutan.
“Mengelola Universitas besar tentu tidak mudah. Tuntutannya banyak, problem internal yang harus dikelola tentu tidak sedikit, sementara persaingan di eksternal juga semakin tinggi. Karena itu kita memerlukan konsolidasi institusi yang dilakukan secara rutin dan terus menerus,” ujar Haedar pada Kamis malam, (12/3/2026) bertempat di Ruang Seminar Utama Gedung Induk Siti Walidah UMS, Surakarta, seperti dilansir oleh muhammadiyah.or.id.
Selain konsolidasi institusi, Haedar turut menekankan pentingnya konsolidasi finansial, mengingat bahwa kondisi ekonomi global yang semakin penuh dengan ketidakpastian. Maka ia menekankan bahwa PTMA selaku lembaga pendidikan perlu memiliki tata kelola keuangan yang bijak, berimbang, dan mampu mengisi problem-problem masa depan.
“Sikap yang seperti ini bagus, di mana di Al Quran sendiri mengajarkan kita untuk tidak boros, juga tidak kikir. Tentu itu bisa kita terapkan dalam mengelola organisasi dalam mengelola amal usahanya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Haedar menjelaskan terkait dinamika pengelolaan perguruan tinggi yang terbilang tidak sederhana. Dalam hal ini, Haedar turut menyoroti dinamika yang juga di alami Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang juga mengadapi tatangan yang tidak ringan.
Ia menilai bahwa dengan berkembangnya arus zaman, saat ini PTN tak hanya mengandalkan adanya APBN, namun juga menekankan etos kemandirian dalam kerja-kerjanya.
“PTN-BH itu ibaratkan gabungan sosialisme dan kapitalisme. Sementara kita murni mengembangkan institusi dengan kekuatan kita sendiri,” ucap Haedar.
Meski begitu, Haedar beroptimis bahwa PTMA akan terus mampu berkembang. Hal itu diyakininya karena Muhammadiyah sejak awal telah memiliki etos perjuangan yang kuat (badlul juhdi) yaitu kesungguhan, keikhlasan, dan pengabdian dalam memajukan persyarikatan dan Amal Usaha.
Maka dari itu, dengan adanya kesungguhan etos kerja tersebut, Haedar turut mengingatkan warga persyarikatan untuk tidak melupakan adanya kekuatan doa. Menurutnya, perjuangan perlu disertai dengan doa yang menyatu dalam setiap ikhtiar kehidupan.
“Sejak kita berniat berjuang, di situlah doa harus sudah masuk. Jawaban atas doa itu menjadi misteri Allah. Kadang kegagalan yang dirasakan justru menjadi jalan menuju keberhasilan yang lebih besar,” pesan Haedar.
Dalam konteks inilah kemudian Haedar berharap, pengembangan PTMA kedepan harus semakin modern, profesional dan maju sebagaimana yang menjadi amanat muktamar Muhammadiyah, yaitu menjadikan persyarikatan dan amal usahanya semakin modern, profesional, dan maju.
“PTMA perlu melampaui etos kerja swasta yang biasa-biasa saja. Kita perlu menuju kepada etos super swasta atau beyond, yaitu semangat kerja yang berani, kreatif, inovatif, dan mandiri,” tuturnya.
Poin selanjutnya yang disoroti oleh Haedar adalah terkait tujuan PTMA yang sebenar-benarnya. Etos kerja yang ditekankannya akan sangat berdampak kepada kualitas PTMA dan mahasiswanya.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama Muhammadiyah menghadirkan mahasiswa di PTMA nya adalah untuk mendidik generasi bangsa yang tercerahkan, baik secara spiritual, alam pikiran, maupun perjalanan hidup di masa depan.
“Maka mindset kita perlu dirubah. Sistem jaringan harus terus dibangun dengan baik, karena AUM akan sangat terkait dan terikat dengan ekosistem di lingkungannya,” jelas Haedar.
Terakhir, dengan disampaikannya poin penting di atas, Haedar meyakini dan optimis bahwa Muhammadiyah di masa depan akan semakin dahsyat. Ia menekankan bahwa kekuatan kemandirian itu harus senantiasa hadir namun juga tidak perlu mengisolasikan diri atau bersikap anti terhadap sistem yang ada di luar.
“Saya yakin ke depan Muhammadiyah akan semakin dahsyat. Kekuatan kemandirian itu hadir tanpa harus mengisolasi diri atau bersikap antik terhadap sistem yang berkembang di luar,” pungkasnya.
Pengajian Ramadan 1447 H, di UMS tersebut turut dihadiri oleh beberapa jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah di antaranya: Saad Ibrahim, Agus Taufiqurrahman, Dahlan Rais, dan Syafiq Mughni. Selain itu turut hadir, jajaran PWM, PWA, Rektor UMS beserta jajaran pimpinan universitas.
Agenda ini menjadi bagian sekaligus momentum refleksi bagi pengembangan AUM. Maka dari itu, diperlukan sinergi, etos kerja yang unggul, serta pengoptimalan potensi jaringan Muhammadiyah agar kedepan mampu menghadirkan perguruan tinggi yang maju, profesional dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan, kesejahteran umat dan bangsa.
(R/pp-muhammadiyah)











