
Oleh: Boyke Sulaiman
SAYA mengenal Dr Andria Catri Tamsin, MPd yang akrab disapa Pak I, sejak awal tahun 1980-an. Ketika itu saya masih sering berlatih teater di Taman Budaya, sedangkan ia masih duduk di bangku SLTA. Kami sering bertemu dalam berbagai lomba baca puisi di Sumatera Barat.
Meski usianya lebih muda, penampilannya selalu menyita perhatian saya dan dalam pikiran saya inilah satu-satunya saingan saya sebagai pembaca puisi dalam lomba.
Hampir setiap lomba yang diikutinya berakhir dengan kemenangan. Sejak saat itu saya yakin, ia bukan sekadar peserta lomba, melainkan seorang deklamator yang memiliki bakat luar biasa.
Perjalanan waktu membuktikan keyakinan itu. Pak I terus menekuni dunia deklamasi hingga menjadi salah satu pembaca puisi terbaik yang dimiliki Sumatera Barat.
Prestasinya membawanya ke panggung nasional, bahkan meraih juara dalam lomba baca puisi memperebutkan Piala HB Jassin. Setelah itu, langkahnya tidak lagi dibatasi oleh wilayah Indonesia.
Dari Padang, ia melanglang buana ke berbagai negara, memperdengarkan puisi-puisi Indonesia kepada dunia.
Yang paling saya kagumi dari Pak I bukan hanya teknik membacanya yang kuat, melainkan kesetiaannya sebagai Deklamator walaupun sehari hari ia sibuk mengajar di UNP (Universitas Negeri Padang) sebagai dosen di bidang kesusastraan tentunya.
Hampir seluruh karya penyair penting Indonesia pernah ia bacakan. Dari Chairil Anwar, Hamid Jabbar, Taufiq Ismail, Darman Munir, Leon Agusta, hingga banyak nama besar lainnya. Jika semua harus saya sebutkan, tentu daftarnya akan sangat panjang.
Setiap penyair memperoleh perlakuan yang sama, dibaca dengan penghayatan, penghormatan, dan tanggung jawab sebagai sebuah karya sastra.
Pak I tidak sekedar membaca puisi. Ia memahami napas setiap larik, menangkap emosi yang tersembunyi di balik kata-kata, lalu menyampaikannya kepada penonton dengan vokal yang terlatih, gestur yang terukur, dan ekspresi yang tidak berlebihan. Karena itulah setiap penampilannya selalu meninggalkan kesan.
Bagi saya, Andria C Tamsin adalah salah seorang deklamator yang telah mengabdikan hidupnya untuk puisi.
Di saat banyak orang berhenti setelah meraih prestasi akademis-nya, ia justru terus berjalan, terus membaca, terus belajar, dan terus membawa suara para penyair Indonesia ke berbagai panggung dunia.
Saya bersyukur mengenalnya sejak awal perjalanan itu. Dari seorang pelajar yang sering menjadi juara lomba baca puisi, hingga menjelma menjadi deklamator yang namanya dikenal di berbagai negara.
Pak I membuktikan bahwa kesetiaan kepada puisi adalah sebuah pengabdian, dan pengabdian itulah yang membuat seorang deklamator dikenang.
Jakarta, 28 Juni 2026









