
PADANG, AmanMakmur —-Tahun ini, tepatnya tanggal 1 Juni 2026, usia seniman multitalenta Syarifuddin Arifin genap berumur 70 tahun. Presiden Ziarah Kesenian Nusantara (ZKN), yang akrab disapa If ini lahir pada tanggal 1 Juni 1956 di Jakarta.
Selain menulis puisi, atau sebagai penyair, Presidium Forum Perjuangan Seniman (FPS) Sumbar ini juga menulis novel/cerbung, cerpen, yang dimuat di media cetak daerah (lokal) dan nasional (Jakarta).
Cerpen dan puisi If dimuat di hampir duaratusan antologi terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan sebagiannya telah diterjemahkan ke Bahasa Perancis, Rusia dan Inggris.
Di samping itu, If yang merupakan alumnus STKIP-AIK Padang juga seorang pekerja teater dan pemain sinetron, serta pernah menjadi wartawan di Harian Haluan Padang.
If merupakan salah seorang penggiat Bengkel Sastra Indonesia (BSI) Jakarta, di tahun 1980-an. Pernah di kelompok Bumi Padang, asuhan Wisran Hadi. Mengasuh dan menjadi sutradara di Teater Jenjang dan Teater Flamboyan, Padang. Dan, mendirikan Sanggar Penulisan MASA Padang (1984).
If sempat menjadi pengurus Dewan Kesenian Sumatera Barat. Dan pernah menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara di Jakarta (1979), Kayutanam Sumbar (1997), serta di Johor Baharu, Malaysia (1999). Kemudian menghadiri Kongres Kesenian di TMII (2005), Kongres PARFI di Jakarta (1993, 1997), serta Kongres PAPPRI di Puncak Jawa Barat (2002).
Pada tahun 2014, If menerima Anugerah Utama Puisi Dunia dari Numera Malaysia bersama Abrar Khairul Ikhirma. Dan tahun 2016 menerima Medalion Pulara di Pangkor Island, Perak Malaysia.

Karya-karya
Karya-karya If termuat dalam Sembilan (1979), Ngarai (1980), Bermula dari Debu (1986), Gamang (1989), Catatan Angin di Ujung Ilalang (1998), Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, Parade Karya Sastra se Sumatera-Jawa (1995), Hawa (1996), Penyair Sumatera Barat (1999), Penyair Sumatera (2000), dan Suara-suara dari Pinggiran (2012), Maling Kondang (2012), Gonjong Patah (2019), dan Iga, Rindu Tanah Plasenta (2023).
Kemudian novel/cerbung; Untuk Sebuah Cinta (2000), Sarjana Sate (2001), dan Anak Angin di Celah Awan Jingga (2002).
If juga pernah memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen Perjuangan PWI Sumbar (1982), Sayembara Penulisan Kritik Sastra (1984), Penulisan Cerpen HUT Mingguan Singgalang (1985), Naskah Sandiwara (1984), Kritik Seni Pertunjukan (2003), dan Pemenang Penulisan Cerpen di Majalah Kartini (2003). Dan karya novelnya Menguak Atmosfir dimuat secara bersambung di majalah Kartini (2004)
Diksi Sederhana, Penuh Metafora yang Elegan
Pengamat sastra Aaendra Medita waktu peluncuran buku antologi puisi; “Iga, Rindu Tanah Plasenta” menyampaikan bahwa puisi-puisi If tak sulit dipahami karena karyanya mengalir dalam kehidupan sosial sehari-hari (kekinian), dan ini mudah untuk menarik benang merah kehidupan masyarakat pada umumnya.
Dengan bahasa yang lugas namun penuh rasa imajinasi, karya If juga penuh kontemplasi sehingga pembaca mengetahui alur berpikir meski penuh tafsir harus perlahan diselami.
Puisi-puisi If memberikan warna lain yang menggambarkan semangat dan gairah yang tercermin melalui diksi yang sederhana bahkan penuh metafora yang elegan.
Aaendra Medita menilai puisi-puisi If menunjukkan kedewasaannya dalam menggambarkan realitas dan dibungkus dengan merespons kehidupannya. Puisi-puisinya pun bernuansa bersyukur atas pengalaman dirinya yang sudah makan asam garam dalam bersastra.
Peringatan 70 Tahun
Menurut rencananya, Hamas (Himpunan Media Sumbar) dalam rangka menghargai para seniman yang telah mengharumkan nama Ranah Minang dengan karya-karya dan prestasi mereka yang fenomenal akan menggelar acara “PERINGATAN 70 TAHUN SANG PENYAIR ASEAN SYARIFUDDIN ARIFIN” (Penyair, Wartawan dan Novelis Nasional Asal Ranah Minang), pada hari Rabu tanggal 3 Juni 2026.
Pada acara ini akan ada; Orasi Budaya, Testimony Speech, Achievement Award dan Parade Baca Puisi.
Memurut Isa Kurniawan dari Hamas, acara ini sekaligus memberitahukan / mengingatkan kepada publik, khususnya para generasi muda, bahwa Ranah Minang memiliki banyak seniman-seniman hebat yang karya dan prestasinya luar biasa, bukan saja di tingkat nasional, tetapi diakui oleh internasional.
Mudah-mudahan acara ini bisa memantik semangat generasi muda Sumbar untuk bisa pula berkarya dan berprestasi seperti para pendahulu, bahkan kalau bisa lebih.
(Ika)











