
Oleh: Boyke Sulaiman
SEBAGAI orang awam, tanpa memakai istilah-istilah seni rupa yang rumit, saya merasa dua patung karya Irwanto Seroja yang saya lihat, mudah dinikmati karena bentuknya mengundang rasa ingin tahu.
Patung Pertama: “Ilusi” yang pertama kali menarik perhatian saya adalah bentuknya yang seolah-olah melayang. Dari satu sisi terlihat seperti kepala atau wajah, dari sisi lain berubah menjadi bentuk abstrak.
Ada lubang-lubang dan lengkungan yang membuat mata terus mencari makna.
Saya jadi merasa patung ini seperti sedang bercerita bahwa hidup tidak selalu bisa dilihat dari satu sudut pandang. Semakin lama diperhatikan, semakin banyak bentuk yang muncul di imajinasi.
Saya juga suka bagaimana serat kayunya tetap terlihat. Kayunya terasa “hidup”, tidak ditutupi sehingga keindahan alaminya tetap menjadi bagian dari karya.
Kemudian, Patung Kedua. Patung ini memberi kesan berbeda. Bentuknya menjulang ke atas, sederhana tetapi anggun.
Bagi saya, ia seperti menggambarkan dua sosok yang saling menopang, atau seseorang yang sedang berusaha bangkit menuju cahaya.
Bagian atasnya yang meruncing seperti mengarah ke langit, memberi kesan harapan dan cita-cita.
Yang menarik adalah senimannya tidak memaksa kayu menjadi bentuk yang realistis. Justru ia mengikuti karakter alami kayu sehingga hasilnya terasa organik dan lembut.

Kesan keseluruhan, kalau saya tidak diberi tahu judul maupun konsepnya, saya tetap akan berhenti cukup lama di depan kedua patung ini.
Bukan karena saya langsung mengerti artinya, tetapi karena bentuknya mengajak saya berpikir. Itu menurut saya salah satu kekuatan sebuah karya seni.
Sebagai pematung otodidak, Mak Uniang (Irwanto Seroja) tampaknya memiliki keberanian untuk tidak sekadar memahat bentuk yang mudah dikenali. Ia lebih memilih menciptakan bentuk-bentuk yang memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan sendiri.
Itulah yang membuat karya-karya ini terasa tidak cepat membosankan.
Kalau saya diminta memberi kesan dalam satu kalimat, saya akan mengatakan …
“Patung-patung ini tidak berusaha menjelaskan apa-apa, tetapi justru mengajak kita berdialog dengan imajinasi sendiri.”
Menurut saya, itulah daya tarik terbesar kedua karya tersebut.
Jakarta 22 Juni 2026.












