
Oleh: Riri Satria
(Penyair, Penulis dan Dosen / Komut PT ILCS Pelindo Solusi Digital)
DALAM waktu dekat Jagat Sastra Milenia (JSM), dengan dukungan berbagai pihak akan menyelenggarakan sebuah rangkaian kegiatan berupa kuliah umum, forum diskusi, serta peluncuran buku. Kegiatan ini sekaligus dalam rangka HUT saya yang ke-56.
Bagi saya, usia bukan sekadar penanda waktu yang terus bergerak, melainkan juga ruang untuk membaca kembali perjalanan gagasan, pengalaman, kegelisahan, dan harapan yang selama ini saya jalani melalui dunia sastra, kebudayaan, serta perkembangan teknologi yang semakin mengubah wajah peradaban manusia.
Pada kuliah umum dan forum diskusi nanti, saya akan membawakan materi berjudul “Deepfake melalui Teknologi Generative AI, Generative Adversarial Network atau GAN, serta Large Language Model atau LLM yang Mengusik atau Mendisrupsi Dunia Sastra”.
Saya melihat perkembangan kecerdasan buatan hari ini bukan lagi sekadar alat bantu teknologi, melainkan telah memasuki wilayah kreatif yang selama ini dianggap sangat manusiawi. Generative AI kini mampu menulis puisi, membuat gambar, membangun simulasi realitas, bahkan menciptakan percakapan yang terasa alami.
Saya merasa dunia sastra sedang menghadapi sebuah perubahan besar, sesuatu yang bukan hanya mengandung ancaman, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan baru yang perlu dipahami dengan pikiran terbuka dan sikap reflektif.
Di dalam dunia Generative AI, saya melihat GAN sebagai salah satu metode yang sangat menarik, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara filosofis. GAN bekerja melalui hubungan dua jaringan yang saling berhadapan: satu menciptakan, satu lagi menguji dan mengkritik hasil ciptaan tersebut. Dari proses saling menantang itulah kualitas hasil menjadi semakin baik dan semakin mendekati realitas.
Saya sering memandang proses ini sebagai metafora kehidupan manusia sendiri, bahwa sesuatu tumbuh dan menjadi lebih matang justru karena diuji dan dipertanyakan.
Sementara itu LLM bergerak di wilayah bahasa. Ia mempelajari miliaran kata dari berbagai sumber dan kemudian menghasilkan teks yang terasa alami. Ketika mesin mulai mampu menulis esai, puisi, artikel, bahkan merespons dengan nuansa emosional tertentu, saya merasa kita sedang berada di tengah sebuah perubahan kebudayaan yang sangat besar.
Dalam kegiatan ini, Insya Allah saya juga akan meluncurkan empat buku, yaitu “Bom Waktu”, “Selesai Tak Usai”, “Teknologi bukan Musuh”, serta “Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan”.
Buku “Bom Waktu” merupakan kumpulan seratus puisi pilihan yang lahir dari kegelisahan saya terhadap arah perkembangan peradaban dunia hari ini. Saya melihat dunia bergerak sangat cepat, begitu maju dan memukau, tetapi di balik semua itu saya juga melihat ketimpangan sosial yang semakin terasa, kerusakan lingkungan yang terus terjadi, serta kemanusiaan yang kerap terdesak oleh logika pertumbuhan tanpa jeda.
Saya merasa manusia sedang hidup di atas sesuatu yang sewaktu-waktu dapat meledak, sebuah bom waktu yang sering kali kita simpan bersama tanpa benar-benar kita sadari.
Melalui buku “Selesai Tak Usai”, saya ingin berbagi pengalaman berpikir dan pengalaman menulis, khususnya mengenai dunia esai. Saya ingin menunjukkan bahwa esai bukan sekadar tulisan bebas yang mengalir tanpa arah, melainkan sebuah bentuk yang memiliki karakter, tujuan, dan cara kerja tersendiri.
Buku ini membahas berbagai bentuk esai, mulai dari deskriptif, naratif, reflektif, kontemplatif, argumentatif, hingga bentuk-bentuk yang lebih spesifik seperti advertorial dan sentuhan postmodernis.
Sementara itu buku “Teknologi bukan Musuh” menghimpun tulisan-tulisan saya tentang transformasi digital, kecerdasan buatan, serta berbagai persoalan sosial ekonomi yang menyertainya. Saya selalu percaya bahwa teknologi tidak layak diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Justru yang paling penting bagi saya adalah bagaimana manusia memaknai dan mengelola teknologi agar tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Adapun buku “Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan” berangkat dari kedekatan batin saya dengan dunia sastra, kebudayaan, dan perkembangan teknologi yang kini bergerak sangat cepat. Saya mencoba membaca kembali sastra bukan hanya sebagai teks, melainkan sebagai cermin zaman dan ruang refleksi manusia.
Tiga dari empat buku tersebut, yaitu “Selesai Tak Usai”, “Teknologi Bukan Musuh”, dan “Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan”saya tulis dengan bahasa yang sederhana meskipun membahas persoalan yang tidak sederhana, seperti transformasi digital, kecerdasan buatan, industri 5.0, dan dampak kebudayaannya.
Saya sengaja memilih cara bertutur yang lebih ringan dan komunikatif agar gagasan-gagasan tersebut dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat luas. Melalui buku-buku ini, saya berharap sastra, teknologi, dan kebudayaan dapat terus dipertemukan dalam ruang dialog yang terbuka, kritis, dan tetap berpijak pada kemanusiaan. *)











