• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

Prof Djohermansyah Djohan: Di Usia ke-499 Tahun, Jakarta Kota Global yang Masih Terlalu Sentralitis

Selasa, 23/6/26 | 10:46 WIB
in Berita
0
Prof Dr Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN. (Foto : Dok)

JAKARTA, AmanMakmur — Di usia ke-499 tahun, Jakarta dinilai telah menunjukkan berbagai indikator sebagai kota global, mulai dari kekuatan ekonomi, kemajuan infrastruktur, hingga kapasitas fiskal yang jauh melampaui daerah lain di Indonesia. Namun, di balik capaian tersebut, Jakarta masih menghadapi persoalan mendasar: tata kelola pemerintahan yang terlalu sentralistis.

Guru Besar Ilmu Pemerintahan IPDN, Prof Dr Djohermansyah Djohan, menilai tantangan terbesar Jakarta saat ini bukan lagi membangun gedung pencakar langit atau menambah proyek infrastruktur modern, melainkan membangun birokrasi yang lebih dekat dengan warga.

“Jakarta berhasil menjalankan desentralisasi sebagai daerah otonom yang kuat terhadap pemerintah pusat. Tetapi Jakarta belum sepenuhnya melakukan desentralisasi ke dalam tubuh pemerintahannya sendiri,” ujar Prof Djohermansyah dalam refleksi Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta, seperti disampaikan pada keterangan pers, Selasa (24/6/2026).

LihatJuga

Ayo Ikuti! Sayembara Menulis Artikel dan Konten Kreator dalam Rangka Dies Natalis ke-70 Unand

Ayo Ikuti! Sayembara Menulis Artikel dan Konten Kreator dalam Rangka Dies Natalis ke-70 Unand

Minggu, 09/8/26 | 19:22 WIB
10
Pecah, Lagu Gamad Ikut Meriahkan Acara “Reuni SMP 7 ’85 Padang”

Pecah, Lagu Gamad Ikut Meriahkan Acara “Reuni SMP 7 ’85 Padang”

Sabtu, 08/8/26 | 17:45 WIB
107
32 Pramuka Penggalang Kwarcab Pariaman Ikuti Jamnas XII di Buperta Cibubur

32 Pramuka Penggalang Kwarcab Pariaman Ikuti Jamnas XII di Buperta Cibubur

Kamis, 06/8/26 | 14:13 WIB
8

Menurut dia, perubahan status Jakarta menjadi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) setelah pemindahan ibu kota negara ke Nusantara membuka peluang besar untuk melakukan pembaruan tata kelola pemerintahan. Jakarta kini tidak lagi dibebani fungsi sebagai pusat pemerintahan nasional dan diarahkan menjadi pusat perekonomian nasional serta kota global.

Secara objektif, kata Prof Djo, demikian pakar otonomi daerah ini akrab disapa, Jakarta memiliki modal yang sulit ditandingi daerah lain. Dari sisi fiskal, Jakarta menjadi daerah dengan tingkat kemandirian keuangan tertinggi di Indonesia. Dari sisi ekonomi, kontribusinya mencapai sekitar 17 persen terhadap produk domestik bruto nasional. Sementara dari aspek administrasi pemerintahan, Jakarta termasuk pelopor digitalisasi layanan publik.

“Modal politik, fiskal, administratif, dan ekonomi Jakarta sangat kuat. Tetapi kota global tidak hanya dibangun dari kekuatan pemerintah provinsi. Kota global dibangun dari kemampuan pemerintah melayani warga sampai ke tingkat paling bawah,” katanya.

Wewenang Menumpuk di Tingkat Provinsi

Prof Djohermansyah menyoroti masih kuatnya konsentrasi kewenangan di tingkat Pemerintah Provinsi DKJ. Sebagian besar pengambilan keputusan, pengelolaan anggaran, dan kendali birokrasi berada di tangan gubernur serta perangkat daerah tingkat provinsi.

Sebaliknya, walikota administratif, bupati administratif, hingga camat dan lurah dinilai belum memiliki ruang kewenangan yang memadai untuk menyelesaikan persoalan masyarakat secara cepat.

Akibatnya, banyak masalah sehari-hari yang langsung dirasakan warga, seperti kerusakan jalan lingkungan, lampu penerangan yang mati, drainase tersumbat, taman yang kurang terawat, perpustakaan sepi, hingga fasilitas publik yang bermasalah, sering kali harus menunggu proses birokrasi yang panjang.

“Padahal masalah-masalah seperti itu paling efektif diselesaikan oleh pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Tidak semua persoalan harus naik ke tingkat provinsi,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut menciptakan paradoks dalam tata kelola Jakarta. Di satu sisi Jakarta ingin sejajar dengan kota-kota dunia seperti Tokyo, New York, Paris, London, dan Sydney. Namun di sisi lain, pola pengelolaan pemerintahannya masih bertumpu pada satu pusat kekuasaan.

Kecamatan/Kelurahan Harus Diperkuat

Prof Djohermansyah menilai reformasi kelembagaan menjadi agenda penting menjelang Jakarta memasuki usia 500 tahun pada 2027. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah memperluas delegasi kewenangan kepada walikota administratif, bupati administratif, camat dan lurah dalam mengelola urusan kewilayahan.

Selain itu, kecamatan dan kelurahan perlu diperkuat melalui penambahan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas organisasi, serta dukungan anggaran yang lebih memadai.

Menurut dia, pengalaman berbagai kota global menunjukkan kualitas pelayanan publik justru ditentukan oleh kemampuan pemerintah di level terdekat dengan masyarakat untuk bertindak cepat dan responsif.

“Persoalan lingkungan, ruang publik, aksesibilitas, dan kenyamanan hidup warga tidak diselesaikan di ruang rapat yang jauh dari masyarakat. Semua itu ditentukan oleh kualitas pelayanan di lapangan,” katanya.

Birokrasi Kelas Dunia

Selain reformasi kewilayahan, Jakarta juga dituntut membangun birokrasi kelas dunia. Aparatur sipil negara perlu memiliki spesialisasi yang lebih kuat dalam bidang-bidang strategis seperti transportasi, tata ruang, lingkungan hidup, teknologi digital, hingga pengelolaan ruang publik.

Rekrutmen aparatur, menurut Prof Djohermansyah, harus semakin berbasis manajemen talenta agar mampu menarik sumber daya manusia terbaik. Pada saat yang sama, integritas, profesionalisme, dan wawasan global aparatur perlu terus diperkuat melalui pendidikan dan pelatihan berstandar internasional.

“Jakarta tidak kekurangan uang, teknologi, atau gagasan pembangunan. Yang dibutuhkan adalah keberanian melakukan pembaruan kelembagaan agar pemerintahan semakin dekat dengan warga,” ujarnya.

Menjelang usia lima abad pada tahun depan, Jakarta dinilai berada di persimpangan penting. Ambisi menjadi kota global tidak akan ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit, panjangnya jaringan MRT, atau posisi dalam berbagai indeks internasional.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota tetap terletak pada kemampuan pemerintah menghadirkan pelayanan publik yang cepat, responsif, dan berkualitas hingga ke lingkungan terkecil masyarakat.

“Jakarta tidak memerlukan pemerintahan yang semakin kuat di puncak. Jakarta memerlukan pemerintahan yang semakin dekat di bawah. Di situlah fondasi kota global sesungguhnya dibangun,” pungkas Prof Djohermansyah.

(R/Wiztian Yoetri)

Post Views: 75
ShareSendShare
Previous Post

Menikmati 2 Patung Kayu Karya Irwanto Seroja

Next Post

Kerja Sama dengan Kota Jinju, DPD RI Dorong Modernisasi Pertanian Daerah

Next Post
Kerja Sama dengan Kota Jinju, DPD RI Dorong Modernisasi Pertanian Daerah

Kerja Sama dengan Kota Jinju, DPD RI Dorong Modernisasi Pertanian Daerah

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,304)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,493)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (9,131)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,776)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,752)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (8,100)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,148)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,602)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,557)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,601)

Berita Lainnya

Sultan B Najamudin: Minat Milenial Jadi Petani Mengkhawatirkan

Sultan B Najamudin: Minat Milenial Jadi Petani Mengkhawatirkan

Minggu, 18/4/21 | 14:08 WIB
22

JAKARTA, AmanMakmur.com ---Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan pada 2063 tak ada lagi profesi petani seiring dengan turunnya pekerja di...

Ketua DPD RI LaNyalla: Presidential Threshold Miliki Banyak Implikasi Buruk

Ketua DPD RI LaNyalla: Presidential Threshold Miliki Banyak Implikasi Buruk

Sabtu, 12/6/21 | 00:14 WIB
38

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, saat tampil sebagai bintang tamu dalam podcast ‘Bursah Interaktif’. (Foto : dpd) JAKARTA,...

Gerakan Seribu Pafa, Cetak Generasi Emas Al-Qur’an

Gerakan Seribu Pafa, Cetak Generasi Emas Al-Qur’an

Kamis, 15/4/21 | 04:10 WIB
50

Oleh : Suhatri Bur (Bupati Padang Pariaman) PEMERINTAH Kabupaten Padang Pariaman memiliki program pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), Tulis Baca...

Bupati Sijunjung Lepas Petugas Pendataan Sicantik Nagari Palaluar

Bupati Sijunjung Lepas Petugas Pendataan Sicantik Nagari Palaluar

Rabu, 07/12/22 | 06:50 WIB
10

Bupati Sijunjung Benny melihat petugas mencatat data. (Foto : Nof) SIJUNJUNG, AmanMakmur.com --- Petugas pendataan Sistim Informasi Data Nagari Cinta...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.