• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

Surat Terbuka (3) untuk Hakim Konstitusi: Yang Mulia, Tarif No Urut 1 Melesat Miliaran Rupiah Jika Yang Mulia Putuskan Proporsional Tertutup

Selasa, 30/5/23 | 14:25 WIB
in Opini
0
Bachtul, Pengamat Sosial dan Politik/Mantan Anggota DPRD Sumbar Dua Periode. (Foto : Dok)

Oleh: Bachtul

Yang Mulia,

Ini adalah surat terbuka saya yang ke-3 untuk Yang Mulia terkait gugatan sistem proporsional terbuka Yang Mulia sidangkan dan tentunya segera Yang Mulia putuskan.

LihatJuga

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

Selasa, 12/5/26 | 19:54 WIB
19
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

Jumat, 08/5/26 | 20:35 WIB
21
Semen Padang FC: Sejarah, Harapan dan Kenyataan

Semen Padang FC: Sejarah, Harapan dan Kenyataan

Selasa, 05/5/26 | 07:22 WIB
33

Kita asumsikan Yang Mulia memutuskan sistem pengganti proporsional terbuka adalah sistem proporsional tertutup seperti Pemilu 2004 (sistem no urut). Maka bisa dipastikan “Tarif” no urut 1 akan melesat tajam !!!.

Terutama no urut 1 di partai-partai besar.

Hampir 80% kursi di 84 dapil untuk DPR RI bisa dikatakan akan dikuasai oleh partai-partai besar.

Sehingga caleg no urut 1 dari partai besar di 84 dapil tersebut bisa dipastikan akan duduk. Kepastian duduk bagi caleg no urut 1, amat disadari oleh caleg maupun partai. Tidak hanya untuk DPR RI tapi juga untuk tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota.

Hal ini membuat no urut 1 menjadi rebutan para caleg. Dan sesuai hukum alam, setiap apa saja yang menjadi rebutan, dengan sendiri nilainya akan naik dan melesat.

Dan bagi partai tertentu, ini akan menjadi kesempatan pula untuk memasang tarif tinggi untuk no urut 1 ataupun 2. Tentunya dengan catatan, bahwa yang dimaksud sistem proporsional tertutup oleh Yang Mulia adalah sistem seperti yang berlaku pada pemilu tahun 2004.

Tapi jika yang dimaksud dengan sistem proporsional tertutup adalah seperti pemilu tahun 1999 atau sistem seperti zaman Orba. Maka tarif bagi yang ingin duduk akan jauh lebih tinggi lagi .

Karena biasanya pengusulan siapa caleg yang akan menduduki kursi yang diperoleh partai akan dilakukan setelah partai dipastikan dapat jatah kursi. Karena hal tersebut dilakukan setelah pemilu dan penghitungan suara selesai. Sehingga tingkat kepastiannya sudah 100%.

Yang Mulia,

Jangankan dengan sistem proporsional tertutup, dengan sistem proporsional terbuka saja, no urut 1 itu sudah bernilai tinggi.

Padahal no urut tidak menentukan duduk atau tidaknya seorang caleg, karena yang menentukan adalah perolehan suara.

Saya punya pengalaman mengikuti Pileg tahun 2014 untuk DPR RI dari partai Nasdem dari Dapil Sumatra Barat 1. Saya dipercayakan pada no urut 1.

Ketika itu ada caleg no urut di bawah saya, yang menawar no urut 1 tersebut melalui pendiri partai Willy Aditya dan Jeffrie Geovanie sebesar 300 juta rupiah.

Tapi oleh Willy Aditya dan Jeffrie Geovanie hal tersebut ditolak dengan tegas. Dan saya oleh partai dipertahankan tetap pada no urut 1.

Ada juga caleg yang lain, yang terang terangan meminta no urut 1 tersebut kepada saya. Dan menyatakan kesiapannya untuk memenangkan partai, sambil memperlihatkan 3 buah sertifikat depositonya senilai kurang lebih 7 miliar rupiah.

Dan bahkan bersama pengurus DPW Sumbar, kami sampai menghadap ke ketua Umum partai. Dan oleh ketua umum partai dijawab, kewenangan menentukan no urut sudah beliau delegasikan ke Bapilu Partai. Jangan malah dibawa lagi ke ketua umum.

Ketika itu Ketua Umum Pak Surya Paloh mengatakan kepada kami semua, “Sekarang kalian pergilah makan siang dulu dan berunding. Setelah makan siang datang kembali ke tempat saya”.

Tapi akhirnya kami semua tidak pernah datang kembali ke Pak Surya Paloh dan juga tidak pernah pergi makan siang bersama.

Pada tahun 2019, saya juga maju ke DPR RI dari partai PPP. Ketika saya tanya kepada Ketua DPW PPP Sumbar, kenapa si A yang menempati no urut 1. Beliau mengatakan si A menyanggupi kepada DPP untuk membantu membayar uang saksi sebesar 500 juta rupiah.

Dan belakangan saya dengar juga dari Ketua DPW si A tidak pernah membayar uang saksi yang dia janjikan.

Yang mulia,

Saya sengaja menceritakan hal di atas bukan dengan tujuan tertentu, tapi hanya sekadar untuk membawa imajinasi Yang Mulia terhadap apa yang bisa terjadi jika Yang Mulia memutuskan sistem pemilu kembali ke sistem proporsional tertutup.

Jika dengan sistem proporsional terbuka saja hal-hal yang saya gambarkan bisa terjadi. Tentu dengan sistem.proporsional tertutup hal yang lebih dahsyat bisa terjadi pula.

“Jual beli” kedaulatan rakyat menjadi hal yang tidak terhindarkan dalam demokrasi kita pada akhirnya.

Dengan sistem proporsional tertutup (baik varian 2004 maupun varian zaman Orba) tidak hanya calon anggota legislatif yang akan pro-aktif “membeli” no urut kopiah ataupun kursi jadi kepada partai.

Tapi sulit dibantah, bahwa akan ada pula kemungkinan partai secara resmi maupun oknum partai secara diam-diam yang akan pro-aktif “menjual” no urut jadi (1 dan 2) atau malah kursi jadi kepada calon legislatif dari partai bersangkutan.

Diluar ‘jual beli”, no jadi ataupun kursi jadi, akan sangat mungkin juga “didistribusikan” dengan cara KKN yang lain seperti kolusi dan nepotisme.

Tapi yang pasti harga no urut jadi ataupun kursi jadi, akan berharga selangit.

Dan dengan sistem proporsional tertutup modal sosial untuk di DPR dan DPRD nyaris tidak berguna dan tidak berpengaruh.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengajak Yang Mulia Hakim Konstitusi untuk main tebak-tebakan harga no urut jadi, khususnya no urut 1 jika pemilu Yang Mulia putuskan adalah proporsional tertutup, dengan varian seperti Pemilu 2004.

Untuk tebakan saya, saya sampaikan seperti di akhir tulisan ini. Tapi untuk nilai tebakan Yang Mulia, silahkan Yang Mulia simpan dalam laci atau dalam hati Yang Mulia sendiri.

Ini nilai tebakan saya Yang Mulia untuk no urut 1.

DPR RI nilainya Rp5 – Rp10 miliar.

DPRD Provinsi nilainya Rp750 juta – Rp1,5 miliar.

DPRD kabupaten/kota nilainya Rp500 juta – Rp1 miliar.

Tebakan saya ini angkanya agak moderat Yang Mulia, mungkin nilai tebakan saya akan ditertawakan oleh caleg di DKI atau di Kalimantan.

Dan terakhir Yang Mulia, soal tarif no urut 1 atau no jadi ini jangan Yang Mulia tanya kepada Abang saya Prof Yusril Ihza Mahendra yang pro-sistem proporsional tertutup. Beliau pasti tidak akan tahu dengan angka-angka ini walau beliau juga merupakan ketua partai.

Yang Mulia tahu kan kenapa beliau tidak tahu ….., hehe.

Dan sebagai penutup, saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh Yang Mulia Hakim konstitusi, jika ada kurang berkenan dari seluruh surat terbuka yang saya buat.

Dan saya masih punya keyakinan sampai detik ini, bahwa Yang Mulia Hakim Konstitusi tidak akan “merampas” kedaulatan rakyat demi siapapun dan demi apapun. Terimakasih. *)

Penulis adalah Pengamat Sosial dan Politik/Mantan Anggota DPRD Sumbar Dua Periode

Post Views: 432
ShareSendShare
Previous Post

Berkunjung ke Qatar, Nono Sampono Bahas Peningkatan Kerjasama Antar Parlemen

Next Post

Inilah Ragam Rendang yang Bisa Anda Dapatkan di Minangkabau

Next Post
Inilah Ragam Rendang yang Bisa Anda Dapatkan di Minangkabau

Inilah Ragam Rendang yang Bisa Anda Dapatkan di Minangkabau

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,183)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,381)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (9,019)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,662)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,646)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (7,962)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,065)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,494)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,433)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,506)

Berita Lainnya

Dirut RS M Djamil Dukung RS Vertikal di Tarok City

Dirut RS M Djamil Dukung RS Vertikal di Tarok City

Kamis, 13/6/24 | 15:51 WIB
121

Dirut RSUP M Djamil Dovy Djanas menerima mantan Kadiskes Padang Pariaman, dr Haji Aspinuddin, dan putra Kayutanam sekaligus salah seorang...

PPKM Diperpanjang, Fahira Idris: Lipatgandakan Vaksinasi

PPKM Diperpanjang, Fahira Idris: Lipatgandakan Vaksinasi

Jumat, 13/8/21 | 03:10 WIB
9

Fahira Idris, Anggota DPD RI. (Foto : dpd) JAKARTA, AmanMakmur.com--- Pemerintah resmi memperpanjang Pemberlakuan Pengetatan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4,...

Rekomendasi TPP-HAM Dinilai Bias, dan Picu Ketegangan Baru

Rekomendasi TPP-HAM Dinilai Bias, dan Picu Ketegangan Baru

Selasa, 11/4/23 | 07:26 WIB
12

Pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy hadir dalam Rapat Gabungan Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI. (Foto : dpd) JAKARTA, AmanMakmur ---Rekomendasi...

Korupsi dan Kelembagaan KPK

Korupsi dan Kelembagaan KPK

Sabtu, 09/12/23 | 21:06 WIB
10

Prof Elfindri, Guru Besar Ekonomi SDM Unand, dan Direktur Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Unand. (Foto: Dok) Oleh: Prof Elfindri...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.