
PADANG, AmanMakmur.com —Dunia industri merespons positif adanya Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang mana kehadirannya menjadi pintu masuk bagi perusahaan industri untuk menyuarakan kebutuhannya dalam penyusunan kebijakan oleh pemerintah pusat.
“Kita terus mendorong dunia industri untuk berpartisipasi mengisi kuisioner setiap bulan, sehingga langkah kita semakin tepat dalam membuat kebijakan untuk kemajuan dunia industri tersebut,” kata Dewi Setiawati, dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, di sela-sela Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengisian Kuisioner Indeks Kepercayaan Industri (IKI), di hall BSPJI Padang, Selasa (27/12/2022).
Dewi Setiawati menyebutkan, sebulan nilai IKI diluncurkan, telah lebih 8.500 perusahaan industri mengisi kuisioner IKI.
“Respons ini melampaui ekspektasi kita, di periode pelaporan selanjutnya diharapkan respons perusahaan industri terus bertambah,” kata Dewi sembari menyebutkan, hasil pengisian kuisioner tersebut akan menjadi gambaran kondisi dunia industri saat ini dan enam bulan ke depan.
Di saat membuka acara tersebut, Staf Khusus Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif memberikan ilustrasi nyata manfaatnya bagi industri yang mengisi kuisioner tersebut.
Ia menyebutkan, gejolak ekonomi global yang saat ini mulai mendera, khususnya pasar di Eropa, membawa efek bagi ekspor industri tekstil, alas kaki, dan furnitur Indonesia.
“Terdekteksinya dari kuisioner tersebut, lalu Kementerian Perindustrian mencarikan jalan dan menemukan kebijakan, dunia industri tersebut dicarikan jalan untuk melakukan ekspor ke pasar Afrika, Amerika, dan Timur Tengah,” kata Febri Hendri, yang berasal dari Solok Sumbar.
Menurut Febri Hendri lagi, mengutip Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, saat meluncurkan IKI bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, IKI merupakan alat untuk mendiagnosa kondisi dan masalah terkini industri pengolahan Indonesia. IKI diharapkan memberikan early warning untuk mengatasi masalah yang terjadi pada industri pengolahan.
“IKI menjadi indikator optimisme industri manufaktur terhadap kondisi perekonomian,” kata Febri Hendri sembari menyebutkan, pada November 2022, kendati terjadi perlambatan ekonomi global, namun nilai IKI industri pengolahan masih kategori ekspansi dan perusahaan industri masih optimis dengan kondisi bisnisnya untuk enam bulan ke depan.
Febri Hendri menyebutkan, penilaian IKI antara 0-100 terbagi atas tiga kategori. Nilai IKI di bawah 50, disebut Kontraksi. Nilai IKI sama dengan 50 disebut Stabil. Dan nilai IKI di atas 50 disebut Ekspansi.
Ia berharap, kalangan industri memberikan jawaban sesuai dengan kondisi apa adanya, sehingga pemerintah tidak keliru dalam mengeluarkan kebijakan.
Ia mengingatkan dunia industri, jangan takut. Pengisian kuisioner tersebut tidak akan digunakan untuk kepentingan selain untuk mendiagnosa persoalan industri.
Febri tidak menampik, tak sedikit kalangan industri atau dunia usaha yang takut mengisi kuisioner. Mereka menghubung-hubungkan dengan biaya tambahan di kemudian hari.
“Tak ada tujuan ke sana, apalagi isinya bukan dalam bentuk angka dan capaian, tetapi lebih menitikberatkan kepada keyakinan dan optimisme dunia industri dalam langkah usaha selanjutnya,” katanya.
(Rel/Agusmardi)











