• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

Daerah Tertinggal Butuh “Special Treatment”, Prof Djohermansyah Ingatkan Jangan Sekadar Retorika Anggaran

Kamis, 26/2/26 | 23:25 WIB
in Berita
0
Prof Djohermansyah Djohan , Guru Besar IPDN dan mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri periode 2010–2014. (Foto : Dok)

JAKARTA, Amanmakmur —Pembangunan berkelanjutan tidak bisa dibangun di atas pola anggaran yang seragam. Untuk mengangkat daerah tertinggal keluar dari jebakan ketimpangan struktural, negara harus berani memberikan perlakuan khusus yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Guru Besar IPDN dan mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri periode 2010–2014, Prof Djohermansyah Djohan menegaskan bahwa pendekatan fiskal yang selama ini diterapkan melalui skema Transfer ke Daerah (TKD) cenderung bersifat standar dan tidak cukup progresif untuk menjawab ketertinggalan wilayah tertentu.

“Kalau daerah tertinggal ingin benar-benar diangkat, harus ada pembiayaan ‘on top’ dari dana TKD. Tidak bisa disamaratakan,” tegasnya.

LihatJuga

Menuju Nagari Cantik, BPS dan Diskominfo Agam Perkuat Kolaborasi

Menuju Nagari Cantik, BPS dan Diskominfo Agam Perkuat Kolaborasi

Selasa, 14/4/26 | 20:46 WIB
4
Indonesia Bukan Jalur Agresi, Senator Gus Hilmy Desak Pemerintah Tolak Akses Bebas Pesawat Militer AS

Indonesia Bukan Jalur Agresi, Senator Gus Hilmy Desak Pemerintah Tolak Akses Bebas Pesawat Militer AS

Selasa, 14/4/26 | 20:24 WIB
2
70 Tahun Sang Penyair ASEAN Syarifuddin Arifin: Guru Besar/Dosen Ikut Baca Puisi

70 Tahun Sang Penyair ASEAN Syarifuddin Arifin: Guru Besar/Dosen Ikut Baca Puisi

Selasa, 14/4/26 | 20:15 WIB
14

Ketertinggalan Bukan Sekadar Label

Berdasarkan pemetaan yang ia cermati, mayoritas daerah tertinggal berada di enam provinsi di Tanah Papua.

Selain itu, terdapat daerah seperti Nias Utara di Sumatera Utara serta beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur seperti Sabu Raijua, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya.
Banyak dari daerah tersebut merupakan Daerah Otonom Baru (DOB) hasil pemekaran.

Pemekaran awalnya dimaksudkan sebagai strategi mendekatkan pelayanan dan mempercepat pembangunan di wilayah periferi. Namun dalam praktiknya, pemekaran tidak otomatis menghasilkan percepatan kesejahteraan.

“Daerah dimekarkan dengan harapan mendapat alokasi lebih besar. Tapi faktanya, banyak yang tetap tertinggal karena tidak diikuti treatment khusus yang konsisten,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Pemekaran tanpa kesiapan fiskal dan tata kelola justru berisiko memecah potensi ekonomi yang sebelumnya terkonsentrasi.

Dampak Pemotongan Anggaran: Perencanaan Berantakan

Persoalan lain yang dinilai mengganggu pembangunan berkelanjutan adalah kebijakan pemotongan anggaran yang dilakukan secara mendadak.

Menurut Prof Djohermansyah, pemotongan dana TKD, dana desa, bahkan dana otonomi khusus (otsus), menciptakan ketidakpastian perencanaan di daerah.

“Daerah sudah menyusun program sejak tahun sebelumnya. Tiba-tiba Januari atau Februari dipotong. Perencanaannya berantakan, target tidak tercapai.”

Pemotongan dana otsus Papua yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah disebut memperlambat upaya peningkatan Indeks

Pembangunan Manusia (IPM), terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
Sebagai perbandingan ekstrem, ia mencontohkan kapasitas fiskal Jakarta yang mencapai puluhan triliun rupiah, sementara beberapa provinsi di Papua hanya memiliki kisaran Rp1 triliun untuk wilayah yang sangat luas dan penuh tantangan geografis.

“Kesenjangan fiskal ini nyata. Kalau tidak ada afirmasi kuat, sulit bicara percepatan.”

Leadership, Uang, dan Kewenangan

Dalam pandangannya, ada tiga prasyarat utama untuk mengangkat kabupaten tertinggal: Pertama, Kepemimpinan (leadership) kepala daerah yang progresif dan fokus pada pengentasan ketertinggalan. Kedua, Kapasitas fiskal (uang) yang memadai untuk menjalankan program nyata.
Ketiga, Kewenangan yang cukup, karena tidak semua urusan berada di tangan pemerintah kabupaten. Masalahnya, seringkali kewenangan strategis berada di kementerian/lembaga pusat.

Jika distribusi program dan anggaran tidak berbasis kebutuhan objektif, melainkan relasi politik atau kedekatan tertentu, maka daerah tertinggal semakin sulit mengejar ketertinggalannya.

“Kalau alokasi anggaran tidak objektif dan tidak berbasis kebutuhan, pembangunan akan timpang.”

Peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat dalam skema desentralisasi, gubernur memegang peran penting sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.

Tugasnya bukan hanya membangun ibu kota provinsi, tetapi memastikan kabupaten tertinggal mendapat afirmasi dan pendampingan.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi tiga level pemerintahan: Bupati di tingkat kabupaten. Gubernur di tingkat provinsi. Menteri dan kepala lembaga di tingkat pusat
Tanpa sinergi tersebut, istilah “pembangunan berkelanjutan” hanya menjadi jargon.

Roadmap Lima Tahun: Bukan Sekadar Koordinasi

Prof Djohermansyah mengkritik pendekatan yang hanya berhenti pada rapat koordinasi tanpa langkah aksi konkret.

“Jangan hanya rapat koordinasi, tapi daerahnya tetap tertinggal. Harus ada roadmap jelas, lima tahun misalnya, dengan target terukur.”

Jika negara serius, menurutnya, dalam satu periode pemerintahan seharusnya bisa ditetapkan target eliminasi status daerah tertinggal secara bertahap, dengan pembiayaan afirmatif yang memadai.

Tambahan Rp100 miliar per tahun untuk satu daerah tertinggal dinilai belum cukup signifikan. Tanpa keberanian alokasi yang lebih besar dan konsisten, percepatan sulit dicapai.

Pembangunan Berkelanjutan: Kolaboratif dan Terukur

Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, pengentasan ketertinggalan harus fokus pada indikator utama: pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan stunting. IPM harus menjadi tolok ukur yang terus didorong naik secara sistematis.

“Kalau semua pihak—bupati, gubernur, dan pusat—punya peta jalan yang sama dan komitmen anggaran yang jelas, dalam beberapa tahun kita bisa melihat perubahan nyata,” katanya.

Tanpa itu, ketimpangan geografis Indonesia yang sangat luas hanya akan memperdalam jarak pembangunan antarwilayah.

Pesan utama yang ditegaskan Prof Djohermansyah adalah sederhana namun mendasar: mengangkat daerah tertinggal bukan soal retorika desentralisasi, melainkan keberanian kebijakan fiskal afirmatif yang konsisten, terukur, dan bebas dari distorsi kepentingan.

Pembangunan berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika negara benar-benar hadir secara adil — bukan dengan pendekatan seragam, melainkan dengan perlakuan khusus bagi wilayah yang paling membutuhkan.

(R/Wiztian Yoetri)

Post Views: 61
ShareSendShare
Previous Post

Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol Mayjen TNI Arief Gajah Mada Safari Ramadan ke Kodim 0308/Padang Pariaman

Next Post

The New OPPI Berharap Direksi Baru Pelindo Bawa Angin Segar

Next Post
The New OPPI Berharap Direksi Baru Pelindo Bawa Angin Segar

The New OPPI Berharap Direksi Baru Pelindo Bawa Angin Segar

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,146)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,346)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (8,972)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,630)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,608)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (7,920)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,024)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,450)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,384)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,476)

Berita Lainnya

DPP Partai Ummat Lakukan Konsolidasi di Sumbar

DPP Partai Ummat Lakukan Konsolidasi di Sumbar

Rabu, 03/11/21 | 03:06 WIB
115

Ketua DPP Partai Ummat Bidang Politik dan Keamanan Dr H Andi Yusran melakukan konsolidasi sekaligus kunjungan kerja ke Sumbar. (Foto...

Senator Asal Aceh Ingatkan Pemerintah Indonesia Harus Bersikap Tegas Terkait Kebijakan LGBT

Senator Asal Aceh Ingatkan Pemerintah Indonesia Harus Bersikap Tegas Terkait Kebijakan LGBT

Jumat, 02/12/22 | 15:10 WIB
7

H Sudirman, Senator / Anggota DPD RI asal Aceh. (Foto : dpd) JAKARTA, AmanMakmur.com --- Senator DPD RI asal Aceh,...

Di Banjarmasin Post, LaNyalla Bicara Pentingnya DPD Bisa Usung Capres

Di Banjarmasin Post, LaNyalla Bicara Pentingnya DPD Bisa Usung Capres

Senin, 24/5/21 | 16:05 WIB
28

KALIMANTAN SELATAN, AmanMakmur.com ---Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, kembali menyambangi kantor media dalam kunjungan kerjanya ke Kalimantan Selatan,...

PPDI Jatim Siap Sinergi dengan DPD RI Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PPDI Jatim Siap Sinergi dengan DPD RI Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

Kamis, 24/2/22 | 08:17 WIB
16

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menerima aspirasi Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Jawa Timur di Kantor Kadin Jatim,...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.