
PADANG, AmanMakmur —-Kalau tidak ada aral melintang, rencananya Hamas (Himpunan Media Sumbar) yang bekerjasama dengan PSH Unand (Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas) akan menggelar acara “78 Tahun Sang. Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik” pada Rabu 4 Juni 2025, bertempat di Convention Hall Unand, Kampus Limau Manis. Padang.
Menurut Isa Kurniawan dari Hamas, acara ini akan berisikan Orasi Budaya, Testimony Speech, Life Achievement Award, Bedah Novel dan Dramatisasi/Musikalisasi Puisi.
Untuk Testimony Speech akan diberikan oleh Khairul Jasmi, Pemred Harian Singgalang, wartawan senior yang juga seorang penulis, bercerita tentang sosok dan kiprah Makmur Hendrik selama bergaul dengannya di dunia kewartawanan dan sastra. Dan bagi Khairul Jasmi (KJ), Makmur Hendrik (MH) itu salah satu gurunya.
Hamas dan PSH Unand juga akan memberikan penghargaan Life Achievement Award kepada Makmur Hendrik atas dedikasinya selama hidupnya sampai sekarang di dalam berkesenian dan berkebudayaan dengan karya-karyanya yang fenomenal dan melegenda.

Berikut sedikit ulasan KJ mengenai MH.
Ulah Makmur Hendrik
Si Bungsu Tak Mati-mati, Hehe…
“KJ kirimkan Singgalang edisi hari ko, TS sampai dima?” Ini pesan WA Makmur Hendrik ke saya, Minggu (16/3). Lupa dia, Tikam Samurai (TS) tak dimuat edisi Minggu Singgalang.
“Bisuak Bang, Senin,” jawab saya.
Makmur Hendrik (MH) sukses membuat TS jadi legenda. Banyak sekali yang bilang ke saya, dia baca TS sampai tamat.
“Belum tamat Pak, kini Si Bungsu di Amerika,” terang saya.
“Indak mati-mati Bungsu tu?”
“Kepalanya terhempas,” jawab saya.
Saya punya semua buku TS dan naskah yang mutakhir sampai yang dikirim ke saya beberapa hari lalu.
“Naskah habis Bang.”
Tak lama kemudian muncul WA pendek-pendek. Sejak dulu MH tak berubah-ubah. Editor takut-takut, kalau tetiba MH memutus cerbungnya. Terbit saja malasnya, apa hendak dikata.
Tapi sudah lebih 5 tahun pula, Bungsu berkelana sampai ke Amerika, naskah tak pernah berhenti.
“Tikam ka tikam indak laku lai,” kata saya.
“Pantun nan laku kini,” jawabnya
“Hehehe”
Kata MH, dia manggaleh kacang goreng, sedang sastrawan hebat jualan emas.
“Ambo jua kacang goreng se,” katanya.
MH adalah wartawan idealis. Sudah saya bilang padanya dulu, “Alah tu Bang.”
Anda tahu jawabnya apa? Ia minta tolong ke saya jualkan cincin emasnya. Uangnya habis.
“KJ tolong jua cincin ko.”
Saya kenal MH ketika dia jadi Pemred Harian Semangat, kalau tak salah, saya Redpel. Lalu berpuluh tahun kemudian saya jadi Pemred Singgalang.
MH kalau buat cerbung, suka hatinya saja. Tapi, tak kehabisan ide. Tak pernah siap dulu, baru dimuat koran. Paling ia buat untuk seminggu terbit. Itu awalnya saja, setelah itu, tiap hari.
Cerbungnya di Semangat berjudul Rimbo. Waktu itu mesin tik, warnet belum ada, tapi ia sudah membuat kisah, lewat alat canggih, koran dikendalikan lewat telepon dari jarak jauh, persis zaman yang kita temui sekarang.
Dan MH, saya, Masful serta almarhum Alwi Karmena, terbit air mata karena menertawai diri masing-masing. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. MH berdomisili di Pekanbaru. Walau begitu, saya tiap hari berkomunikasi dengan wartawan hebat ini. Dengan sastrawan kawakan ini.
Lalu dimana hebatnya? Ia selalu memulai ceritanya dengan memukau. Giring-giring Perak lebih dahsyat alinea-alinea pertama dibanding TS. Lebih dahsyat lagi, pembuka cerita novel Melintas Badai.
Oh ya, jika Anda menyimpan kliping koran Mingguan Singgalang yang memuat cerbung TS pertama kali, kontak saya, atau Isa Kurniawan atau posting di FB Anda, kami akan urus MURI untuk TS.
Oh ya yang kedua, dulu oto Bang Makmur ini sedan merah, gilo talantak tiok sabanta. Mentang-mentang pesilat, jadi mobil marasai dibuatnya.
MH salah satu guru saya. (khairul jasmi)
(Ika)











