• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

LaNyalla Sebut Dua Indikator Demokrasi Indonesia Memburuk

Selasa, 29/3/22 | 12:44 WIB
in Berita
0
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, jadi pembicara kunci di Seminar Nasional Ikatan Alumni Universitas Diponegoro. (Foto : dpd)

JAKARTA, AmanMakmur.com — Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan dua indikator dalam demokrasi Indonesia semakin memburuk. Kedua indikator itu adalah politik dan kebebasan sipil.

Hal tersebut disampaikan LaNyalla secara virtual saat menjadi pembicara kunci di Seminar Nasional Ikatan Alumni Universitas Diponegoro dengan tema ‘Penundaan Pemilu, Kemunduran atau Terobosan Demokrasi?’ sekaligus Peluncuran Buku LP3ES ‘Kemunduran Demokrasi dan Resiliensi Masyarakat Sipil’, Senin (28/3).

LaNyalla menjelaskan, awal Februari 2022 The Economist Intelligence Unit, sebuah lembaga riset dan analisis multi isu, menyatakan secara umum Demokrasi di Indonesia dalam kondisi cacat, atau flawed democracy.

LihatJuga

Respons Cepat Kementerian PU Tangani Longsor Lembah Anai, Hitungan Jam Akses Kembali Dibuka

Respons Cepat Kementerian PU Tangani Longsor Lembah Anai, Hitungan Jam Akses Kembali Dibuka

Jumat, 31/7/26 | 21:28 WIB
15
Sekda Agam Lepas Atlet Pencak Silat Furqon Habil Winata Mengikuti Pelatnas Persiapan SEA Games Malaysia 2027

Sekda Agam Lepas Atlet Pencak Silat Furqon Habil Winata Mengikuti Pelatnas Persiapan SEA Games Malaysia 2027

Jumat, 31/7/26 | 21:02 WIB
12
LaNyalla Raih Radar Surabaya Award 2026 sebagai Tokoh Politik Nasional

LaNyalla Raih Radar Surabaya Award 2026 sebagai Tokoh Politik Nasional

Jumat, 31/7/26 | 20:48 WIB
5

“Kondisi ini disebabkan semakin memburuknya dua indikator dalam demokrasi di Indonesia. Yaitu budaya politik dan kebebasan sipil. Ini mungkin sangat cocok bila kita kaji dari buku yang ditulis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang berjudul Bagaimana Demokrasi Mati,” katanya.

Dijelaskan LaNyalla, polarisasi tajam di masyarakat sejak 2014 lalu, menjadi salah satu penyumbang kemunduran budaya politik bangsa ini dalam konteks demokrasi.

“Karena, sepanjang waktu kita disuguhi kegaduhan nasional. Disuguhi pertunjukkan drama kolosal yang sangat tidak bermutu. Sesama anak bangsa saling melakukan persekusi. Saling melaporkan ke ranah hukum. Seolah tidak ada lagi ruang dialog dan tukar pikiran,” katanya.

Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, kondisi tersebut menjadi lebih parah ketika ruang-ruang dialog yang ada juga semakin dibatasi dan dipersekusi. Baik secara frontal oleh pressure group, maupun dibatasi secara resmi oleh institusi negara.

Hal itu yang akhirnya membuat masyarakat akhirnya disuguhkan dengan sweeping bendera, sweeping kaos, sweeping forum diskusi, pembubaran forum pertemuan dan lain sebagainya.

“Aksi-aksi itu sama sekali tidak mencerminkan kehidupan di negara demokrasi. Tetapi lebih kepada tradisi bar-bar. Sehingga tidak heran, bila sejumlah lembaga internasional menyatakan bahwa indeks demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran,” katanya.

LaNyalla mengatakan, penyebab dari hal di atas adalah kesepakatan partai politik untuk menerapkan ambang batas pencalonan presiden, atau presidential threshold, yang membuat pasangan calon yang dihasilkan sangat terbatas.

“Celakanya, dari dua kali Pemilihan Presiden, negara ini hanya mampu menghasilkan dua pasang calon, yang head to head. Sehingga polarisasi masyarakat semakin tajam,” ujarnya.

Alumnus Universitas Brawijaya Malang itu juga menyebut jika hegemoni partai politik, sekaligus tirani mayoritas partai politik di Senayan adalah persoalan mendasar bangsa. Hal ini menjadi salah satu kecelakaan akibat Amandemen Konstitusi 2002 silam.

“Amandemen Konstitusi memberi ruang terlalu besar kepada partai politik. Akibatnya, yang terjadi adalah hegemoni partai menjadi tirani baru, yang bekerja dengan pola zero sum game. Makanya saya katakan, Demokrasi di Indonesia sejak Amandemen telah berubah arti, karena bukan lagi; ‘dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’, tetapi telah berubah menjadi; ‘dari rakyat, oleh partai, dan untuk kekuasaan’,” tukasnya.

Sementara DPD RI, sebagai peserta pemilu perseorangan, yang merupakan representasi daerah, tidak memiliki kewenangan yang cukup kuat di dalam konstitusi. Sehingga praktis, unsur non-partisan, atau kelompok non partai politik tidak memiliki ruang yang cukup di Senayan.

“Saya memahami bahwa berkongsi dalam politik adalah sesuatu yang wajar. Tetapi menjadi jahat, ketika kongsi dilakukan untuk mengkhianati kehendak rakyat sebagai pemilik sah kedaulatan bangsa,” ujarnya.

(Rel/dpd)

Post Views: 334
ShareSendShare
Previous Post

Tarhib Ramadan 1443 H, Nevi Zuairina Sampaikan Pentingnya Ketakwaan dan Keikhlasan

Next Post

Geger RUU Sisdiknas, Gus Hilmy: Kurikulum Madrasah Lebih Menjanjikan

Next Post
Geger RUU Sisdiknas, Gus Hilmy: Kurikulum Madrasah Lebih Menjanjikan

Geger RUU Sisdiknas, Gus Hilmy: Kurikulum Madrasah Lebih Menjanjikan

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,287)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,478)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (9,119)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,759)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,737)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (8,081)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,137)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,587)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,541)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,590)

Berita Lainnya

SBN: Cabut Izin Kampus yang Tidak Memiliki Mahasiswa.

SBN: Cabut Izin Kampus yang Tidak Memiliki Mahasiswa.

Jumat, 30/4/21 | 19:23 WIB
144

JAKARTA, AmanMakmur.com ---Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) berencana menjalankan program merger atau penggabungan...

Get One Bedah Pemikiran Erick Thohir yang Selaras dengan Prinsip Minangkabau

Get One Bedah Pemikiran Erick Thohir yang Selaras dengan Prinsip Minangkabau

Senin, 14/2/22 | 09:21 WIB
88

Baliho sosialisasi Gerakan Transformasi Indonesia (Get One) di Padang. (Foto : Adt) PADANG, AmanMakmur.com---Sejak Kementerian BUMN dipegang oleh Erick Thohir,...

Gaya Lobby Wako Genius, Bahagia tanpa Ganti Rugi

Gaya Lobby Wako Genius, Bahagia tanpa Ganti Rugi

Senin, 14/2/22 | 03:25 WIB
48

Wiztian Yoetri, SH, MIKom, Wartawan Senior. (Foto : Dok) MEMBANGUN dengan dana Non Buget. Inilah terobosan yang dilakukan Walikota Pariaman...

Anggota DPD RI Dwi Ajeng Sekar Respaty Lakukan Reses Bersama KPUD Kepri untuk Evaluasi Persiapan Pilkada Serentak 2024

Anggota DPD RI Dwi Ajeng Sekar Respaty Lakukan Reses Bersama KPUD Kepri untuk Evaluasi Persiapan Pilkada Serentak 2024

Kamis, 14/11/24 | 20:22 WIB
12

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dwi Ajeng Sekar Respaty, SH, MKn, melaksanakan reses bersama KPU Kepri. (Foto : dpd)...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.