• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

KKB Terus Bergejolak, Filep Wamafma Uraikan Akar Persoalan

Senin, 06/9/21 | 08:45 WIB
in Berita
0
Dr Filep Wamafma, SH, MHum, Wakil Ketua I Komite I DPD RI, Senator dari Papua Barat. (Foto : dpd)

JAKARTA, AmanMakmur.com —Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua terus melancarkan aksinya melalui berbagai penyerangan terutama terhadap aparat keamanan TNI/Polri. Aksi KKB beberapa waktu lalu terjadi di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. KKB atau TPNPB-OPM mengakui bertanggung jawab atas penyerangan Posramil Kisor, Maybrat, Papua Barat pada Kamis (2/9) dini hari yang menewaskan 4 orang prajurit TNI.

Wakil Ketua I Komite I DPD RI, Dr Filep Wamafma, SH, MHum, menanggapi kejadian tersebut dan persoalan KKB yang terus bergejolak di Tanah Papua.

Menurut Filep Wamafma perlawanan warga sipil menggunakan senjata sudah terjadi begitu lama, akan tetapi tidak ada solusi dari pemerintah dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah ini.

LihatJuga

Siap Berkontribusi untuk Kemajuan Daerah, Purna ASN Saiyo Sakato Padang Pariaman Gelar Silaturahmi Taragak Basuo

Siap Berkontribusi untuk Kemajuan Daerah, Purna ASN Saiyo Sakato Padang Pariaman Gelar Silaturahmi Taragak Basuo

Kamis, 23/7/26 | 08:32 WIB
54
Bangun Citra Positif di Tengah Ekosistem Digital, MPI PP Muhammadiyah Gelar Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) 2026

Bangun Citra Positif di Tengah Ekosistem Digital, MPI PP Muhammadiyah Gelar Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) 2026

Selasa, 21/7/26 | 20:28 WIB
3
Ketua DPD RI Sultan B Najamudin: Pemerintah Berkomitmen Penuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat Daerah

Ketua DPD RI Sultan B Najamudin: Pemerintah Berkomitmen Penuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat Daerah

Selasa, 21/7/26 | 20:06 WIB
5

Senator asal Papua Barat ini menguraikan tiga persoalan lama berkaitan dengan aksi KKB yang belum juga diselesaikan hingga saat ini.

Menurut Filep, aksi KKB berkaitan dengan kejadian pelanggaran HAM masa lalu, adanya perbedaan pemahaman ideologi dan penanganan pengaduan masyarakat Papua terkait pelanggaran HAM.

“Pertama, kejadian pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu, sejak Papua berintegrasi dengan Indonesia dan pada saat Orde Baru, dengan daerah operasi militer di zaman Presiden Soeharto, sampai saat ini tidak ada keinginan pemerintah untuk menyelesaikan konflik tersebut yang merupakan warisan dari masa lalu dan diwariskan ke masa ini,” ulas Filep.

Kedua, pemahaman ideologi dikarenakan perbedaan pendapat terhadap sejarah integrasi yang tumbuh subur di tengah rakyat Papua diikuti dengan sejarah konflik senjata pada saat tahun 60-an.

Ketiga, perlawanan masyarakat terhadap pemerintah melalui Komnas HAM, jika terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dilakukan melalui proses pengadilan.

Tokoh intelektual Papua ini berpendapat bahwa permasalahan dalam persoalan KKB, sejauh ini belum ada kejelasan apakah institusi atau perorangan yang terlibat dalam pelanggaran HAM akan diproses pengadilan. Sehingga kondisi ini menjadi sulit dan pada akhirnya diperjuangkan oleh LSM maupun oleh Ketua Adat karena belum ada upaya nyata oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Hal ini menjadi sulit karena perorangan tersebut melakukan tugas dari institusi dan perintah dari pemimpin di masa lalu. Hal ini terkait dengan siapa pemimpin yang menerapkan tugas tersebut. Jika pemerintah ini mau memproses hal itu maka jelas bisa diproses, tapi negara pasti akan melindungi karena hal itu dilakukan bukan berdasarkan perorangan tapi dilakukan atas nama institusi,” ungkapnya.

Menurutnya jejak sejarah kelam di masa lalu itu berlanjut kepada generasi saat ini. Selain itu, hak warga dalam Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) saat 1969 lalu juga masih menimbulkan polemik dimana terdapat lebih dari 600 ribu hak suara, akan tetapi nasib Papua hanya ditentukan oleh 1.025 suara yang seluruhnya mendukung integrasi ke Indonesia.

“Hal ini lah yang masih diperdebatkan sampai sekarang, apakah warga Papua ini diakui atau tidak oleh pemerintah. Sehingga terjadilah gejolak yang memanas. Buktinya adalah setiap tanggal 1 Desember pasti dirayakan Hari Kemerdekaan Papua. Dalam hal ini seharusnya pemerintah mengambil peran, pemerintah harus menunjukkan bukti bahwa Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Filep.

Filep menuturkan, Papua Barat masih memiliki keterbatasan dalam Sumber Daya Manusia (SDM) namun Papua Barat juga memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang luar biasa. Seharusnya, dengan bekal kekayaan Sumber Daya Alam ini, masyarakat Papua Barat dapat menikmati kesejahteraan namun pada kenyataannya Papua Barat masih termasuk dalam provinsi termiskin di Indonesia.

Pemerintah seharusnya memberdayakan warga lokal Papua untuk bekerja di daerah masing-masing sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga lokal.

Terlebih, warga Papua menganggap bahwa tanah adalah investasi mereka, tetapi pemerintah kerap melakukan perjanjian investasi yang justru kurang menguntungkan bagi pemilik tanah.

Seharusnya pihak pemerintah membagi keuntungannya secara adil menurut pembagiannya tanpa ada pihak yang dirugikan sama sekali.

“Warga Papua tidak merasakan keadilan dalam pekerjaan dan investasi tersebut. Hal seperti inilah yang membuat warga Papua melawan, mereka melawan karena mereka memperjuangkan hak mereka. Namun, pemerintah justru menganggap sebagai teroris atau KKB. Seharusnya pemerintah hanya dapat menyatakan bahwa di dalam Provinsi Papua terdapat beberapa kelompok atau oknum yang ingin melawan atau memerdekakan Papua. Jadi stigma teroris kurang pas untuk menerapkan hal tersebut,” jelasnya.

Ia menekankan, pemerintah dapat mencegah atau meredam gejolak kelompok yang dianggap teroris dengan melakukan beberapa metode pendekatan seperti pendekatan secara budaya, ideologi, dan hal-hal lainnya. Presiden yang melakukan beberapa pendekatan hal tersebut hanya terdapat pada satu presiden yaitu Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur).

Menurut Filep, dalam membangun Papua pemerintah dapat mencontoh bagaimana pemerintahan Presiden Gus Dur menerapkan pendekatan melalui pemahaman suku, budaya, dan agama bukan melalui pengiriman pasukan TNI dan Polri.

“Hal ini juga yang sering atau kerap diceritakan oleh para orang tua ke pada anaknya, hampir seluruh warga di pedalaman Papua pasti pernah mendengar cerita itu dari orang tuanya mengenai kekerasan yang sedemikian rupa,” kata Filep.

Selain itu, ia mengatakan banyaknya pos-pos penjagaan di setiap daerah dapat membuat warga merasa ketakutan dan ketidaknyamanan. Warga Papua ini hanya warga biasa yang bukan anggota OPM. Ketakutan warga dapat dipahami mengingat SDM warga Papua di sana masih rendah, terlebih jika mendapatkan intimidasi dari para anggota militer seperti diperketatnya larangan beraktivitas.

(Rel/dpd)

Post Views: 408
ShareSendShare
Previous Post

Fahira Idris: Senam Tera Bisa Tingkatkan Derajat Kesehatan Warga Jakarta

Next Post

Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Raja-Raja Sekala Brak Kepaksian Pernong di Lampung Barat

Next Post
Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Raja-Raja Sekala Brak Kepaksian Pernong di Lampung Barat

Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Raja-Raja Sekala Brak Kepaksian Pernong di Lampung Barat

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,276)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,471)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (9,108)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,749)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,727)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (8,067)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,128)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,578)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,530)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,580)

Berita Lainnya

DPD RI Apresiasi “Pahlawan Seni Budaya” Tim Muhibah Angklung

DPD RI Apresiasi “Pahlawan Seni Budaya” Tim Muhibah Angklung

Senin, 11/11/24 | 11:33 WIB
12

Anggota DPD RI Agita Nurfianti berfoto bersama dengan Tim Muhibah Angklung. (Foto : dpd) JAWA BARAT, AmanMakmur ---Anggota Dewan Perwakilan...

Dukung Penguatan HKPD, Sultan: Kenaikan 40-75 Persen Pajak Hiburan Perlu Dikaji Ulang

Dukung Penguatan HKPD, Sultan: Kenaikan 40-75 Persen Pajak Hiburan Perlu Dikaji Ulang

Jumat, 19/1/24 | 22:02 WIB
4

Wakil Ketua DPD RI Sultan B Najamudin. (Foto : dpd) JAKARTA, AmanMakmur ---Wakil Ketua DPD RI Sultan B Najamudin meminta...

Upgrading Majelis Guru SIT Raudhah, Nevi Zuairina Berikan Pembekalan Sekaligus Serah Terima TJSL

Upgrading Majelis Guru SIT Raudhah, Nevi Zuairina Berikan Pembekalan Sekaligus Serah Terima TJSL

Kamis, 24/11/22 | 17:27 WIB
14

Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sumatera Barat II dari Fraksi PKS Hj Nevi Zuairina berkesempatan memberikan upgrading para guru Sekolah...

Muhammad Fadhil, Putra Almarhum Mantan Bupati Ali Mukhni Mendaftar ke PKS Padang Pariaman

Muhammad Fadhil, Putra Almarhum Mantan Bupati Ali Mukhni Mendaftar ke PKS Padang Pariaman

Minggu, 12/5/24 | 00:17 WIB
23

Muhammad Fadhil, MAP mendaftar sebagai Bakal Calon Bupati ke DPD PKS Padang Pariaman. (Foto : mf) PADANG PARIAMAN, AmanMakmur ---Maju...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.