
JAWA BARAT, AmanMakmur — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah persatuan bangsa, tetapi juga ruang untuk mendorong generasi muda mengambil peran dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Semangat tersebut diangkat oleh Badan Eksekutif Siswa Terpadu SMP Islam Terpadu Fitrah Hanniah Bekasi, Jawa Barat, melalui kegiatan Seminar Karhutla Care Initiative, dengan tema “Generasi Muda Peduli Sesama” dan slogan “Dari Generasi Muda, untuk Bumi Kalimantan”.
Kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu (28/10/2026) ini, menghadirkan Faaiz Naufal Syahputra sebagai pemateri untuk membahas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari faktor penyebab, karakteristik ekosistem yang rentan terbakar, hingga pentingnya pencegahan sejak dini.
Pemilihan isu karhutla menjadi relevan karena dampaknya tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Kebakaran dapat merusak habitat satwa, menurunkan kualitas udara, mengganggu kesehatan masyarakat, serta menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi. Dalam kondisi tertentu, kabut asap bahkan dapat menyebar melampaui batas wilayah negara.
Karhutla Bukan Sekadar Api, tetapi Ancaman bagi Kehidupan
Disampaikan Faaiz Naufal Syahputra, salah satu persoalan penting dalam pembahasan karhutla adalah kerentanan ekosistem gambut. Ketika gambut mengering, material organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar. Api juga dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit diketahui dan membutuhkan penanganan khusus.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya perlindungan hutan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi,” ujar mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) ini.
“Pencegahan, pengawasan, deteksi dini, serta pemahaman masyarakat mengenai risiko kebakaran menjadi bagian penting dalam mengurangi ancaman karhutla,” tukuknya.
Dalam materi edukasi yang disiapkan, pembahasan juga mencakup ekosistem savana, karst, dan mangrove. Pengenalan terhadap berbagai bentang alam ini membantu memperluas pemahaman mengenai kekayaan ekosistem Indonesia sekaligus pentingnya menjaga fungsi ekologisnya.
Aktivitas manusia, menurut Faaiz, juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pembakaran lahan yang tidak terkendali, api yang ditinggalkan tanpa pengawasan, dan perilaku ceroboh di kawasan kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
Karena itu, lanjutnya, kesadaran untuk mencegah kebakaran perlu dibangun sebelum api muncul. Masyarakat dapat berkontribusi dengan menghindari pembakaran sembarangan dan segera melaporkan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang.
Dari Lingkungan Sekolah untuk Masa Depan Kalimantan
Melalui seminar ini, isu karhutla dibawa ke ruang pendidikan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini. Pelajar tidak hanya perlu mengenal bahaya kebakaran, tetapi juga memahami bahwa tindakan sederhana dapat menjadi bagian dari pencegahan.
Generasi muda memiliki ruang untuk menyebarkan pengetahuan melalui sekolah, organisasi, komunitas, dan media digital. Informasi yang benar dapat membantu masyarakat mengenali risiko kebakaran sekaligus mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Namun, keterlibatan generasi muda bukan pengganti peran pemerintah, petugas pengendalian kebakaran, dan lembaga pengelola kawasan. Sebaliknya, edukasi dan partisipasi masyarakat dapat melengkapi upaya yang dilakukan berbagai pihak dalam melindungi hutan.
Slogan “Dari Generasi Muda, untuk Bumi Kalimantan” menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari ruang pendidikan dan dikembangkan menjadi gerakan yang lebih luas.
Memaknai Sumpah Pemuda melalui Kepedulian Lingkungan
Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober menjadi pengingat bahwa semangat persatuan dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kontribusi bagi bangsa. Pada masa kini, salah satu tantangan yang membutuhkan perhatian bersama adalah menjaga kelestarian lingkungan.
Kebakaran hutan dan lahan memperlihatkan eratnya hubungan antara kondisi ekosistem, perilaku manusia, dan kehidupan masyarakat. Ketika hutan mengalami kerusakan, dampaknya dapat dirasakan oleh banyak pihak, termasuk mereka yang tinggal jauh dari lokasi kebakaran.
Karena itu, membangun kepedulian terhadap hutan juga berarti menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan lingkungan menjadi salah satu langkah untuk memastikan generasi muda memahami hubungan tersebut dan mampu mengambil peran sesuai kapasitasnya.
Melalui Seminar Karhutla Care Initiative, Badan Eksekutif Siswa Terpadu SMP Islam Terpadu Fitrah Hanniah mengangkat pesan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan kesadaran yang dibangun secara berkelanjutan.
Sebab, menjaga hutan bukan hanya tentang mencegah api membesar, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki lingkungan yang sehat, ekosistem yang lestari, dan masa depan yang layak diperjuangkan.
Dari generasi muda, untuk Bumi Kalimantan — kepedulian hari ini menjadi bagian dari tanggung jawab terhadap masa depan.
(FNS)











