• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

Jangan Kotori Kertas Putih Praja Muda

Kamis, 30/7/26 | 13:56 WIB
in Opini
0
Praja IPDN dilantik oleh Presiden Prabowo. (Foto : Dok)

Oleh: Djohermansyah Djohan
(Guru Besar IPDN, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri 2010–2014, Pj. Gubernur Riau 2013–2014)

PELANTIKAN 1.204 Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) oleh Presiden Prabowo Subianto kemaren bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menandai lahirnya generasi baru aparatur sipil negara (ASN) yang akan mengabdi di berbagai penjuru Indonesia. Mereka datang dengan semangat, ilmu, dan idealisme. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: siapkah birokrasi dan politik kita menjaga idealisme mereka?

Saya meyakini para Pamong Praja Muda telah dibekali kemampuan yang memadai. Selama empat tahun mereka ditempa melalui pendidikan, pelatihan, dan pengasuhan. Mereka belajar ilmu pemerintahan terapan, kepemimpinan, etika, administrasi publik, manajemen pemerintahan, pengelolaan keuangan daerah, hingga transformasi digital birokrasi. Karakter mereka juga dibentuk.Berdisiplin, punya integritas, dan memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat

LihatJuga

Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda: Menjadi Pemuda Patriotik, Gigih, Berempati untuk Indonesia Emas 2045

Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda: Menjadi Pemuda Patriotik, Gigih, Berempati untuk Indonesia Emas 2045

Rabu, 28/10/26 | 14:19 WIB
5
Pelebaran Jalan Simpang BIM-Ketaping, Mendesak

Pelebaran Jalan Simpang BIM-Ketaping, Mendesak

Selasa, 27/10/26 | 17:48 WIB
4
Sebuah Refleksi; Anas Malik, dari Kabupaten Tertinggal, Hingga Nomor Satu!

Sebuah Refleksi; Anas Malik, dari Kabupaten Tertinggal, Hingga Nomor Satu!

Selasa, 20/10/26 | 21:55 WIB
11

Singkatnya, mereka memasuki birokrasi sebagai kertas putih.

Masalahnya bukan pada kualitas lulusan, melainkan pada lingkungan tempat mereka akan bekerja.

Sejarah birokrasi Indonesia menunjukkan tidak sedikit ASN muda yang masuk dengan idealisme tinggi, tetapi perlahan kehilangan arah karena berhadapan dengan budaya birokrasi yang belum sehat. Mereka menghadapi tekanan politik, intervensi atasan, bahkan praktik jual beli jabatan yang masih mencuat di sejumlah daerah.

Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.

Birokrat profesional bekerja berdasarkan aturan, hukum, dan kepentingan publik. Sebaliknya, birokrat yang terjebak dalam kepentingan politik sesaat akan kehilangan independensi. Ketika seorang ASN dipaksa memilih antara mempertahankan integritas atau mempertahankan jabatan, sesungguhnya negara sedang gagal melindungi aparatur profesionalnya.

Karena itu, pesan Presiden Prabowo agar birokrasi tidak berbelit-belit, menjaga kehormatan ASN, dan tidak ragu-ragu berpihak kepada rakyat merupakan peringatan yang sangat penting. Loyalitas ASN bukan kepada individu, melainkan kepada konstitusi, hukum, dan kepentingan masyarakat.

Persoalan kita selama ini bukan kekurangan aparatur yang pintar. Persoalan utamanya justru pada ekosistem birokrasi.

Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem merit sebagai fondasi manajemen ASN. Promosi jabatan seharusnya ditentukan oleh kompetensi, integritas, kinerja, dan rekam jejak. Namun dalam praktiknya, meritokrasi masih sering dikalahkan oleh patronase politik. Jabatan diberikan bukan kepada yang paling mampu, melainkan kepada yang paling dekat dengan kekuasaan. Bahkan, kepada yang berani membeli jabatan.

Akibatnya, investasi negara yang begitu besar untuk mencetak birokrat profesional menjadi kurang optimal.

Negara membiayai pendidikan Praja IPDN dari awal hingga lulus. Pendidikan, pakaian seragam, asrama, konsumsi, pelatihan, pembentukan karakter, hingga pengembangan kepemimpinan seluruhnya menggunakan uang rakyat. Investasi tersebut seharusnya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan publik yang semakin berkualitas.

Akan tetapi, apabila setelah lulus mereka justru dipaksa mengikuti praktik birokrasi yang menyimpang, negara sesungguhnya sedang menyia-nyiakan investasi sumber daya manusianya sendiri.

Karena itu, reformasi birokrasi tidak cukup hanya memperbaiki proses belajar-mengajar dan kurikulum IPDN.

Yang jauh lebih penting adalah membenahi para pembina karier ASN, terutama kepala daerah sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian. Mereka harus menjadi teladan dalam menjalankan sistem merit, bukan justru merusaknya melalui intervensi politik atau transaksi jabatan.

Kita tidak boleh membiarkan birokrat muda yang datang dengan idealisme tinggi berubah menjadi birokrat pragmatis hanya karena lingkungan kerjanya rusak.

Generasi Z yang kini memasuki birokrasi memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Mereka adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, terbuka terhadap inovasi, dan mampu mempercepat transformasi pelayanan publik berbasis digital. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk membangun birokrasi modern yang cepat, transparan, dan akuntabel.

Namun secanggih apa pun teknologi, birokrasi tetap akan gagal apabila budaya politiknya masih menganggap ASN sebagai alat kekuasaan.

Pengalaman negara-negara maju di sekitar kita, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, menunjukkan bahwa birokrasi profesional hanya tumbuh apabila politik juga sehat. Politisi menetapkan arah kebijakan, sementara birokrasi menjalankannya secara profesional berdasarkan hukum dan kompetensi. Ketika politik mencampakkan meritokrasi, profesionalisme akan menjadi korban pertama.

Karena itu, pembenahan birokrasi harus berjalan beriringan dengan pembenahan politik.

Jangan sampai kita berhasil mencetak aparatur yang profesional, tetapi gagal menyediakan lingkungan kerja yang profesional pula.

Praja Muda adalah aset bangsa. Mereka adalah investasi jangka panjang negara untuk menghadirkan pemerintahan yang bersih, melayani, dan berintegritas.

Jangan kotori kertas putih itu.

Sebab masa depan birokrasi Indonesia bukan hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan para pamong, melainkan oleh kehadiran negara di bawah komando Presiden sebagai pejabat pembina kepegawaian tertinggi untuk menjaga mereka tetap bersih dalam menjalankan karier di dunia pemerintahan. *)

 

Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri 2010–2014, Pj. Gubernur Riau 2013–2014. (Foto : Dok)
Views: 128
ShareSendShare
Previous Post

Rektor Unand Turun Gunung

Next Post

Mahasiswa KKN UNP Beri Pelatihan Kuliner pada Masyarakat Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak

Next Post
Mahasiswa KKN UNP Beri Pelatihan Kuliner pada Masyarakat Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak

Mahasiswa KKN UNP Beri Pelatihan Kuliner pada Masyarakat Nagari Ambuang Kapua Sungai Sariak

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,457)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,639)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (9,281)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,930)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,879)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (8,267)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,287)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,748)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,718)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,731)

Berita Lainnya

Fernando Sinaga: DPD RI dan KPA Sepakat Dorong Legislasi Reforma Agraria

Fernando Sinaga: DPD RI dan KPA Sepakat Dorong Legislasi Reforma Agraria

Senin, 06/9/21 | 11:10 WIB
17

Komite I DPD RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) secara hibrid. (Foto : dpd)...

Pemberian Tahanan Rumah pada Yaqut Cholil Qoumas, Prof Djohermansyah: KPK Ciptakan Preseden Berbahaya

Pemberian Tahanan Rumah pada Yaqut Cholil Qoumas, Prof Djohermansyah: KPK Ciptakan Preseden Berbahaya

Selasa, 24/3/26 | 23:38 WIB
9

Prof Djohermansyah Djohan, Guru Besar IPDN serta Pakar Otda. (Foto : Dok) JAKARTA, AmanMakmur ---Latar belakang panjang dalam dunia pemerintahan dan...

Soal Label Teroris, Filep Wamafma: Semoga tak ada perang lagi! Kitong su cape, Bapa Presiden

Soal Label Teroris, Filep Wamafma: Semoga tak ada perang lagi! Kitong su cape, Bapa Presiden

Minggu, 02/5/21 | 10:57 WIB
32

JAKARTA, AmanMakmur.com ---Pemerintah tentu saja sadar betul bahwa lahirnya UU Otsus Papua dan Papua Barat didasari oleh kenyataan bahwa penyelenggaraan...

Di Sidang Paripurna DPD RI, Filep Wamafma Sampaikan Aspirasi Soal DBH Migas Hingga Dana Desa

Di Sidang Paripurna DPD RI, Filep Wamafma Sampaikan Aspirasi Soal DBH Migas Hingga Dana Desa

Selasa, 10/1/23 | 20:20 WIB
12

Senator Papua Barat Dr Filep Wamafma. (Foto : dpd) JAKARTA, AmanMakmur --- Senator Papua Barat Dr Filep Wamafma menyampaikan aspirasi...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.