
PADANG, AmanMakmur –—Jagad seni dan budaya Ranah Minang berduka ketika penyair Iyut Fitra menghembuskan nafas terakhirnya pada 27 April 2026 di RSUP dr M Djamil Padang dalam usia 58 tahun –setelah dirawat kurang lebih selama 25 hari.
Iyut Fitra merupakan seorang penyair Indonesia asal Ranah Minang yang lahir di Payakumbuh tanggal 16 Februari 1968, dan merupakan bungsu dari tujuh bersaudara hasil pernikahan pasangan suami-istri Safri dan Jawani.
Meskipun basecamp Kuyut –demikian panggilan akrab Iyut Fitra oleh para sahabat dan koleganya sesama seniman– di Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat, tapi puisinya dimuat di sejumlah media massa nasional Indonesia, dan juga Malaysia serta Brunei Darussalam.
Di tengah derasnya perubahan yang terjadi, dan dunia yang tanpa sekat (borderless), Iyut Fitra membuktikan bahwa untuk berkarya itu bisa dimana saja.
Karena pergaulannya yang luas di kalangan seniman, saat Iyut Fitra meninggal, tak henti ucapan dukacita di media sosial datang dari para seniman Sumbar maupun nasional.
Tahun 1990, Iyut Fitra mendirikan komunitas seni Intro, bersama sejumlah pelaku seni di Payakumbuh. Di antaranya; Yusril Katil, Ijot Goblin, Cibot Irsa, Petra, Rudi Cirut, YM Dallu Awartha dan Sigit A Yazid. Belakangan, Yusril menjadi dosen di ISI Padangpanjang. Sedangkan Sigit dan Ijot sudah lama berpulang.
Kehadiran komunitas Intro mendapat apresiasi dari masyarakat dan banyak membawa pengaruh positif untuk anak muda. Bahkan, mayoritas kegiatan seni-budaya di Payakumbuh, diwarnai anak-anak Intro.
Karya-karya Iyut Fitra
Musim Retak (2006)
Dongeng-dongeng Tua (2009)
Beri Aku Malam (2012)
Baromban (2016)
Lelaki dan Tangkai Sapu (2017)
Mencari Jalan Mendaki (2018)
Sinama (2020)
Kepadamu Kami Bicara (2022)
Dengung Tanah Goyah (2024)
Puisinya “Orang-orang Bukit Tui” telah digubah oleh komponis musik klasik Ananda Sukarlan menjadi tembang puitik, dan menjadikannya salah satu yang terpanjang dan paling kompleks dari 600-an nomor tembang puitik yang telah diciptakannya.
Pada tahun 2010, Iyut Fitra sempat ke Australia mengikuti The Festival Of Australian Writing WordStorm 2010. Ini semacam festival yang mempertemukan penulis dari Asia Pasifik dan Australia. Saat itu, Iyut Fitra mewakili Indonesia bersama penulis “Laskar Pelangi” Andrea Hirata, editor Jurnal Perempuan MGuntur Romli, dan cerpenis Yulianti Farid.
Penghargaan dan Anugerah
Beberapa penghargaan pernah diraih/didapatkan oleh Iyut Fitra, di antaranya;
Pada tahun 1992, Iyut Memenangkan Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (1992)
Pemenang Lomba Cipta Puisi Kemenbudpar RI (2006)
10 besar Khatulistiwa Literary Award (2007)
Nominasi HPI (Hari Puisi Indonesia) (2016, 2017, 2018)
10 besar Kusala Sastra (2017)
Penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat (2009)
Penghargaan Buku Puisi Terbaik dari Perpusnas RI (2019)
Penghargaan Sastra Kemendikbud RI (2020)
Anugerah Payakumbuh Award (2022), kategori Tokoh Seni dan Budaya.
Buku puisinya Dengung Tanah Goyah (2024), terpilih sebagai tiga besar buku sastra pilihan Tempo.
(Ika)
(Dari berbagai sumber)











