
JAWA TIMUR, AmanMakmur –— Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, mengakui pengalaman Muhammadiyah dalam membangun sistem organisasi dan mengelola pendidikan sebagai pembelajaran penting bagi Syarikat Islam.
Menurutnya, penguatan sistem dan tata kelola kelembagaan menjadi kunci agar potensi organisasi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Hamdan, Minggu (18/10/2026), dalam Dialog Kebangsaan pada rangkaian Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur.
Hamdan mengungkapkan bahwa Syarikat Islam memiliki sejumlah perguruan tinggi dan sekolah di berbagai daerah. Namun, pengelolaannya masih membutuhkan pembenahan agar potensi lembaga pendidikan tersebut dapat berkembang lebih optimal.
“Karena itu kita harus banyak belajar dari Muhammadiyah. Jadi prinsip utamanya adalah sistem yang kita bangun, bukan orang per orang,” ujar Hamdan, seperti dilansir muhammadiyah.or.id.
Selain tata kelola organisasi, Hamdan juga menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama antar organisasi Islam. Menurutnya, ukhuwah tidak seharusnya hanya muncul ketika terjadi persoalan, tetapi perlu menjadi kekuatan untuk mendorong kemajuan bersama.
“Memang selama ini ukhuwah itu kita jadikan seperti air karena itu jadi pemadam kebakaran. Ada masalah, baru ukhuwah. Selama ini kan ada ribut baru kita ketemu. Ukhuwah sebagai pemadam kebakaran, saya sering sampaikan begitu. Karena itu tadi menarik, ukhuwah jangan hanya sampai sebagai pemadam kebakaran, tapi menjadi energi. energi mesin untuk maju bersama,” tuturnya.
Hamdan menilai, silaturahmi dan dialog yang berkelanjutan dapat membuka jalan bagi kolaborasi ant organisasi Islam. Ia berharap Muhammadiyah, Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, dan organisasi Islam lainnya dapat bersama-sama memperkuat pemberdayaan umat.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya membangun sistem pemberdayaan yang melibatkan masyarakat di sekitar masjid. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan mengembangkan potensi masyarakat.
Haedar menjelaskan bahwa pemberdayaan perlu menjangkau seluruh warga di lingkungan sekitar, termasuk masyarakat yang memiliki latar belakang agama berbeda. Melalui pendekatan komunitas, potensi warga dapat dihimpun untuk membantu mereka yang menghadapi persoalan sosial maupun ekonomi.
“Kalau menjadi jemaah pemberdayaan maka di situ peluang untuk mewujudkan apa yang tadi disebut sebagai membina atau membangun mengembangkan ekonomi umat,” kata Haedar.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah memiliki pengalaman melalui Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah yang mengorganisasi masyarakat dalam kelompok-kelompok kecil. Pendekatan tersebut memungkinkan warga saling membantu melalui sistem yang terorganisasi, bukan sekadar bantuan individual.
Haedar menambahkan, Muhammadiyah telah mengembangkan jaringan pelayanan sosial melalui rumah sakit, klinik, dan lembaga pendidikan. Ke depan, penguatan bidang ekonomi perlu menjadi perhatian agar pemberdayaan masyarakat dapat berjalan lebih menyeluruh.
“Nah apa yang disampaikan Pak Menteri saya pikir pengembangan ekonomi kerakyatan, koperasi itu yang paling realistis untuk dikembangkan. Tinggal jaringannya yang harus semakin melembaga begitu,” tegasnya.
Dialog tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pertukaran pengalaman ant organisasi Islam, mulai dari tata kelola kelembagaan, pengembangan pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi. Pengalaman Muhammadiyah yang mendapat apresiasi dari para tokoh Syarikat Islam diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penguatan gerakan bersama untuk kemaslahatan umat.
(R/pp-muhammadiyah)











