• Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
AmanMakmur.com
Advertisement
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
AmanMakmur.com
No Result
View All Result

Adminduk Indonesia Bukan Tertinggal, Prof Djohermansyah Djohan: Hanya Belum Terorkestrasi

Rabu, 22/4/26 | 07:19 WIB
in Berita
0
Prof Djohermansyah Djohan,, Guru Besar IPDN dan mantan Dirjen Otonomi Daerah 2010-2014. (Foto : Dok)

JAKARTA,  AmanMakmur ––Pernyataan Ketua Komisi II DPR RI M Rizqinizamy yang menyebut sistem administrasi kependudukan (Adminduk) Indonesia tertinggal dari Malaysia mendapat tanggapan dari Prof Djohermansyah Djohan, yang merupakan guru besar IPDN dan mantan Dirjen Otonomi Daerah 2010-2014.

Prof Djohermansyah menjelaskan bahwa sistem Adminduk perlu dilihat secara komprehensif. Jika ditarik pada konteks faktual dan perkembangan terkini, perbandingan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

“Indonesia dan Malaysia sejatinya berada pada level perkembangan yang relatif setara, bahkan dalam beberapa aspek Indonesia menunjukkan capaian yang signifikan,” ujar Prof Djohermansyah kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).

LihatJuga

Ahmad Fadly: Pramuka Miliki Peran Strategis Bentuk Karakter Generasi Muda

Ahmad Fadly: Pramuka Miliki Peran Strategis Bentuk Karakter Generasi Muda

Kamis, 14/5/26 | 12:03 WIB
4
Langgar Aturan, Lapak PKL Kembali Ditertibkan Satpol PP Padang

Langgar Aturan, Lapak PKL Kembali Ditertibkan Satpol PP Padang

Kamis, 14/5/26 | 11:20 WIB
11
Temui Kemenko Polkam, DPD RI Desak Pemerintah Lahirkan Peta Jalan Penyelesaian Keamanan di Papua

Temui Kemenko Polkam, DPD RI Desak Pemerintah Lahirkan Peta Jalan Penyelesaian Keamanan di Papua

Kamis, 14/5/26 | 11:12 WIB
4

Perbandingan yang kerap muncul, kata Prof Djo, demikian panggilan akrab pakar otonomi daerah ini, seringkali bersandar pada pengalaman masa lalu—bahkan sebelum Indonesia memulai program KTP elektronik (e-KTP) dan sistem Nomor Induk Kependudukan (NIK) secara nasional pada 2011–2012.

“Padahal, dalam lebih dari satu dekade terakhir, Indonesia telah melakukan lompatan besar dalam pembangunan sistem identitas tunggal berbasis biometrik,” ucap Prof Djo.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan kondisi geografis kepulauan yang kompleks, keberhasilan Indonesia membangun database kependudukan nasional merupakan capaian strategis yang tidak sederhana.

Sistem ini tidak hanya menggunakan sidik jari, tetapi juga biometrik atau iris mata, serta menyimpan berbagai elemen data penting penduduk dalam chip e-KTP.

Dari Single Identity ke Multi-Use

Secara konseptual, Indonesia telah mengadopsi single identity number melalui NIK. “Dimana dalam praktiknya, pemanfaatan NIK sebagai identitas tunggal juga sudah berjalan di berbagai sektor: perbankan, perpajakan, layanan kesehatan (BPJS), hingga transportasi publik,” terang Prof Djo.

Namun, tantangan utama saat ini bukan lagi pada ketersediaan data, melainkan pada pemanfaatan yang belum optimal. Integrasi antar kementerian/lembaga (K/L) dan sektor swasta masih menghadapi kendala klasik: ego sektoral dan belum solidnya political will.

Akibatnya, lanjut Prof Djo, meskipun data sudah tersedia, belum semua layanan publik dan sistem digital menjadikan NIK sebagai basis utama. Di sinilah pekerjaan rumah terbesar pemerintah—bukan membangun dari nol, tetapi memastikan interoperabilitas dan integrasi berjalan nyata.

Perlu Payung Regulasi dan Orkestrasi Nasional

“Penguatan Adminduk tidak bisa hanya dibebankan pada Dukcapil”, kata Prof Djo sembari menekankan bahwa integrasi data kependudukan membutuhkan kerangka regulasi yang jelas, sekaligus orkestrasi lintas sektor yang kuat.

Sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci. Kolaborasi antara Kementerian Dalam Negeri, KemenPAN-RB, Komdigi, Bappenas, BPS, BSSN, dan berbagai K/L lain kini mulai diarahkan dalam kerangka Digital Public Infrastructure (DPI).

Langkah ini penting untuk memastikan bahwa NIK benar-benar menjadi “tulang punggung” layanan publik digital—dari bantuan sosial, layanan keuangan, hingga sistem pemilu.

IKD vs MyDigitalID: Bersaing Sehat

Menurut Prof Djo, dalam konteks identitas digital, Indonesia melalui Identitas Kependudukan Digital (IKD) sebenarnya telah memiliki basis pengguna yang lebih besar, yakni sekitar 18,7 juta pengguna. Angka ini melampaui MyDigitalID di Malaysia yang berada di kisaran 12 juta pengguna.

Namun, Malaysia dinilai Prof Djo lebih agresif dalam memperluas use case pemanfaatan identitas digital. Sementara di Indonesia, penggunaan IKD masih relatif terbatas.

“Ke depan, pengembangan fitur seperti digital onboarding serta integrasi dengan sektor perbankan dan layanan publik lainnya menjadi krusial,” kata Prof Djo.

“Pemerintah juga perlu menargetkan perluasan pemanfaatan IKD dalam program strategis, termasuk digitalisasi bantuan sosial,” tambahnya.

Tantangan Nyata: Infrastruktur dan Keamanan Data

Di balik capaian tersebut, pemerintah dengan jujur telah mengakui adanya sejumlah kelemahan. Kapasitas data center, kebutuhan peningkatan volume verifikasi biometrik, serta kompleksitas akses data yang masih menjadi kendala.

Selain itu, isu keamanan data dan kebocoran informasi menjadi tantangan serius yang dapat menggerus kepercayaan publik. Penguatan cyber security dan tata kelola data menjadi syarat mutlak dalam membangun sistem yang kredibel.

Arah Kebijakan: Sentralisasi atau Jalan Tengah?

Perdebatan lain yang mengemuka adalah soal tata kelola: apakah Adminduk perlu sepenuhnya disentralisasikan atau tetap dalam skema desentralisasi dengan perbaikan.

Model saat ini—yang merupakan “jalan tengah”—menyisakan persoalan kapasitas daerah yang tidak merata, baik dari sisi SDM maupun infrastruktur. “Namun, opsi sentralisasi penuh juga menghadapi kendala besar, terutama kemampuan fiskal pemerintah pusat yang sedang menggalakkan efisiensi,” kata Prof Djo.

Karena itu, solusi jangka pendek yang realistis menurut Prof Djo, bagaimana memperkuat standar nasional, meningkatkan supervisi pusat, serta memastikan pembiayaan yang lebih proporsional.

Bukan Tertinggal, Tapi Belum Terorkestrasi

Alih-alih tertinggal, persoalan utama Adminduk Indonesia justru terletak pada belum optimalnya orkestrasi sistem yang sudah dibangun.

Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat: database besar, teknologi biometrik, dan sistem identitas tunggal. Tantangan berikutnya adalah memastikan semua sektor berjalan dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Jika itu tercapai, bukan hanya setara dengan negara lain, Indonesia berpotensi menjadi rujukan dalam pengelolaan administrasi kependudukan di negara berkembang, “satu kartu untuk banyak urusan”.

“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan sekadar kecanggihan sistem, tetapi sejauh mana negara mampu mempermudah urusan rakyat—bukan justru mempersulitnya,” pungkas Prof Djo.

(R/Wiztian Yoetri)

Post Views: 68
ShareSendShare
Previous Post

Di Momen Hari Kartini, Putri Nabila Damayanti Serukan Perempuan Muda Harus Bangkit

Next Post

Pelaku Deklarasi Damai Malino dan Poso; Ceramah JK di UGM Sesuai Narasi Sejarah

Next Post
Pelaku Deklarasi Damai Malino dan Poso; Ceramah JK di UGM Sesuai Narasi Sejarah

Pelaku Deklarasi Damai Malino dan Poso; Ceramah JK di UGM Sesuai Narasi Sejarah

Most Viewed Posts

  • Istri Rektor ITP Hendri Nofrianto Berpulang ke Rahmatullah (15,180)
  • Lalai Eksekusi Bupati Pessel, LBH Sumbar akan Laporkan Kejari Painan ke Jamwas dan Komjak (11,380)
  • Klaim Rinaldi sebagai Ketum IKA FMIPA Unand Ditolak Alumni (9,018)
  • Ibunda Tercinta Mulyadi Wafat, Banyak Tokoh Nasional Kirim Karangan Bunga Duka Cita (8,661)
  • Ambulans Sumbangan Warga Padang Ikut Bantu Evakuasi Korban di Palestina (8,645)
  • Mevrizal: Profesi Pengacara Syariah Menggiurkan dan Kian Diminati (7,961)
  • Menakar Peluang DPD RI Dapil Sumbar di Pemilu 2024 (7,064)
  • Memenuhi Syarat, Bacalon DPD RI Hendra Irwan Rahim Dinilai Paling Siap (6,492)
  • Puncak Peringatan Hari Koperasi, Hendra Irwan Rahim: Dua Menteri Bakal Hadir di Sumbar (6,430)
  • DPD RI Bentuk Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer (5,505)

Berita Lainnya

Bupati Pasaman Benny Utama: Pemerintah Butuh Kritik yang Konstruktif

Bupati Pasaman Benny Utama: Pemerintah Butuh Kritik yang Konstruktif

Kamis, 02/12/21 | 05:13 WIB
2

Narasumber dan peserta kegiatan sosialisasi pemberdayaan dan pembinaan ormas se-Kabupaten Pasaman foto bersama. (Foto : syf) PASAMAN, AmanMakmur.com --- Bupati...

Gelar Sertifikasi Kompetensi Wartawan, PPWI dan LSP Pers Indonesia Teken MoU

Gelar Sertifikasi Kompetensi Wartawan, PPWI dan LSP Pers Indonesia Teken MoU

Rabu, 20/9/23 | 10:47 WIB
31

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PPWI Wilson Lalengke dan Ketua LSP Pers Indonesia Hence Mandagi meneken Memorandum of Understanding (MoU)....

Serap Aspirasi di Desa Kembangbilo Tuban, LaNyalla: Masyarakat Butuh Waduk untuk Jaga Ketahanan Pangan

Serap Aspirasi di Desa Kembangbilo Tuban, LaNyalla: Masyarakat Butuh Waduk untuk Jaga Ketahanan Pangan

Selasa, 28/2/23 | 21:46 WIB
5

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, lakukan kunjungan ke Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. (Foto :...

LaNyalla Jelaskan 3 Jurus Hadapi Resesi dalam Forum Bisnis Munas HIPMI

LaNyalla Jelaskan 3 Jurus Hadapi Resesi dalam Forum Bisnis Munas HIPMI

Senin, 21/11/22 | 18:34 WIB
13

Ketua DPD RI LaNyalla jadi narasumber dalamForum Bisnis Sesi I, Munas HIPMI XVII. (Foto : dpd) JAWA TENGAH, AmanMakmur.com ---...

  • Aman Makmur
  • Beranda
  • Tim Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.