
JAKARTA, AmanMakmur — Bagi warga Muhammadiyah, bahkan masyarakat umum sudah sangat akrab dengan semboyan yang disampaikan Kiai Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan Cari Hidup di Muhammadiyah”.
Dari semboyan itu ternyata menjadi nyawa yang menggerakkan Muhammadiyah, sehingga hidup dan memberikan manfaat sampai mencapai 114 tahun pada tahun 2026 ini. Tak hanya digunakan di lingkungan Muhammadiyah, semboyan itu juga sering dimodifikasi dan digunakan oleh kelompok lain.
Semboyan ini seperti ‘mantra’ yang menghidupkan semangat beramal– berzakat, berinfak, maupun berdonasi lewat Muhammadiyah untuk menggerakkan dakwah Muhammadiyah. Dakwah yang memberikan manfaat bagi semua, yang hanya mengharap rida Allah Swt.
Menurut Pak Abdur Rozak Fachruddin (AR) —yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah dari tahun 1968-1990— melalui semboyan itu Kiai Ahmad Dahlan ingin berwasiat kepada para penerusnya supaya siapapun yang memimpin Muhammadiyah harus berniat ikhlas karena Allah Swt. Bukan mencari kedudukan, keduniaan, atau mencari kekayaan, serta hal-hal keduniaan lainnya.
Lalu apakah dengan adanya semboyan itu, seorang yang bekerja di Muhammadiyah tidak mendapat gaji untuk melangsung hidupnya, membiayai anak-anaknya berpendidikan, menafkahi keluarganya untuk makan, menentramkan keluarga di rumah tinggal dan seterusnya?
Apakah Karyawan di Muhammadiyah Tidak Digaji?
Pak AR bilang itu tidak benar, sebab guru, dokter, karyawan di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tetap harus diberikan gaji. Termasuk rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah – Aisyiyah (PTMA) juga berhak menerima gaji. Bahkan mubalig Muhammadiyah juga dibenarkan untuk diberikan ongkos berjuang.
Bahkan Pak AR dalam buku “Pesan dan Warisan, Pak AR” yang diterbitkan PT BP Kedaulatan Rakyat tahun 1995 menceritakan, bahwa menurut Kiai Soedja’, sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan para mubalig Muhammadiyah yang diutus ke berbagai tempat di luar Yogyakarta diberi ongkos jalan.
“Dengan demikian jelas bahwa, jangan cari hidup dalam Muhammadiyah bukan dimaksudkan untuk serba gratis-gratisan. Namun yang jelas, jangan sampai warga Muhammadiyah secara gegabah menggunakan harta milik Muhammadiyah yang pada umumnya hasil dari wakaf atau infak dari para warga Muhammadiyah,” tutur Pak AR.
Warga Muhammadiyah Harus Teladani Keikhlasan Kiai Dahlan
Sepertinya agak sulit menyamai keikhlasan Kiai Dahlan dalam Bermuhammadiyah– yang bahkan pernah melelang semua hartanya untuk menggaji guru Muhammadiyah yang selama beberapa bulan belum dibayar karena kas organisasi ini kosong.
Oleh karena itu, jika tidak bisa menyerupai keikhlasan Kiai Dahlan dalam Bermuhammadiyah, warga Muhammadiyah diminta untuk berusaha meneladani keprihatinan Kiai Dahlan. Tidak harus seluruh harta kekayaan diberikan untuk perjuangan Muhammadiyah, namun bisa dengan sebagian harta saja.
“Kiai Dahlan mengajak warga Muhammadiyah mengurbankan sebagian harta uangnya untuk membiayai gerak dan jalannya Muhammadiyah. Dan yang demikian itu oleh Kiai dijelaskan, asal ikhlas, termasuk ibadat kepada Allah.”
Sebab mengikuti ajaran Kiai Dahlan lewat berjuang di Muhammadiyah, kata Pak AR, sama dengan memperjuangkan agama Allah Swt yaitu agama Islam. Menurutnya, menggerakkan Muhammadiyah itu sama dengan berjuang di jalan yang bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah.
(Tan)
Sumber: muhammadiyah.or.id











