
PADANG, AmanMakmur.com —Gempa 6,1 skala richter Jumat 25 Februari 2022 di Pasaman dan Pasaman Barat, selain menimbulkan duka, kerugian moril dan materil, ternyata juga menyisakan ancaman bencana beruntun, banjir, longsor dan galodo.
Dari penelusuran Tim Bhakti untuk Negeri Jaringan Pemred Sumbar (JPS) bersama mitra dan tokoh, ada 19 lebih titik longsor sepanjang ruas Simpang Empat-Kajai, Pasaman Barat.
Bahkan Selasa (15/3) sore kemarin juga ada galodo di Siparayo Malampah Pasaman yang merusak areal persawahan warga.
Pakar Geologi Sumbar Ade Edward mengatakan, pascagempa kewaspadaan dan mitigasi warga harus selalu ditingkatkan.
“Berdasarkan hasil rapid assesment pascagempa Talamau, kawasan alur banjir bandang masih akan mengalami longsor di bagian hulu dan banjir bandang di lembah aliran bagian hilirnya,” ujar Ade Edward, Kamis (17/3).
Untuk memahami warga sekitar Gunung Talamau itu early warning sistemnya hanya tanda alam saja. “Jika mendengar suara gemuruh di hulu maka itulah sebagai early warning yang cukup efektif, dan sebaiknya warga menyelamatkan diri dengan mencari lokasi aman,” ujar Ade.
Ade Edward juga mendesak para pemangku kepentingan perlu segera menetapkan dan memasang rambu-rambu daerah rawan banjir bandang susulan.
Pihak berkompeten terkait pemetaan kerawanan bencana tengah melakukan kajian lebih rinci terhadap pemukiman yang terancam banjir bandang susulan untuk rekomendasi apakah perlu relokasi atau bisa dimitigasi
“Jangan sampai timbul korban jiwa banjir bandang susulan. Karena daerah bencana mencakup dua wilayah kabupaten, maka soal mitigasi ini tentu menjadi kewenangan provinsi,” ujar Ade.
Tapi kalau dibiarkan dan bencana susulan pascagempa Talamau dan memakan korban jiwa ini bisa dikategorikan kelalaian pemerintah.
(Rel/Adt/rian)











