
PASAMAN BARAT, AmanMakmur.com— Nestapa gempa bumi 6,1 skala richter sepertinya masih panjang. Soalnya warga takut kembali ke rumahnya di Kajai karena takut dihondoh galodo.
Hal itu diungkap tokoh Pasaman Barat sekaligus putera asli Talamau, Yosmeri, Senin (28/2), kepada media di Padang.
“Warga takut karena belum ada pernyataan resmi pihak terkait soal potensi galodo dari runtuhnya tebing-tebing di Gunung Talamau,” ujar Yosmeri.
Menurut Yosmeri, fenomena pascagempa sumber air di Kajai sekitarnya mengecil, sementara asal air dari Gunung Talamau.
“Perlu kepastian keamanan dan kenyamanan terhadap ancaman galodo menerjang Kajai, jika BMKG dan BPBD memastikan lewat penelitian ahli geologi mungkin warga di pengungsian akan kembali lagi ke Kajai,” ujar Yosmeri.
Selain itu kondisi warga Kajai yang mengungsi tak terdata pasti, padahal kini bantuan telah banyak yang datang dari berbagai sumber
“Pihak pendistribusi bantuan sulit membagi ke warga, karena warga mengungsinya menyebar. Ada di halaman kantor bupati, ada ke Talu, dan ada di rumah warga, di sekitar Pasaman Barat” ujar Yosmeri.
Pengamat politik nasional ini berharap pihak Pemkab Pasaman Barat melakukan pendataan berapa riilnya warga Talamau yg mengungsi.
Pemerintah provinsi juga hendaknya lebih responsif terhadap hal-hal yang menjadi persoalan di lokasi bencana karena menimpa 2 kabupaten, Pasaman Barat dan Pasaman.
“Jika data ini valid, maka bantuan yang datang dapat terdistribusi dengan baik dan tidak menumpuk di posko-posko,” ujar Yosmeri.
Yosmeri mendesak pihak terkait untuk segera menyalurkan bantuan tenda.
“Jangan warga kami dikasih tikar saja, Bu Mensos kemarin berjanji berikan satu KK satu tenda, mohon disegerakan,” ujar Yosmeri.
Dari pengalaman, kata Yosmeri, ternyata Kajai dulunya pernah diterjang galodo besar. “Sehingga gempa 6,1 skala richter kemarin mengembalikan ingatan warga akan persitiwa galodo dulu itu,” ujar Yosmeri.
(Rel/Adt)











